SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

13 August 2008

Kabar Menggembirakan Bagi Kami (3)


Pembicaraan kami dengan para orang tua kami, saat bezukan tiba, hampir selalu berkisar mengenai kabar tersebut. Bahkan kini berlanjut, bahwa penangguhan penahanan kami segera turun atau diberikan dari pihak kepolisian atas nama kuasa Kasatserse, Pak Oegroseno. Demikian pula para penasehat hukum kami pun juga tampak gembira mendengar berita baik tersebut. Hal tersebut segera akan terwujud sejak tanggal 23 September 1996, dan itu artinya kami akan segera pula menghirup udara bebas di luar penjara ini. Itulah yang membuat kami semua di penjra ini selalu berharap besar mengenai terwujudnya berita baik tersebut.
            Untuk kesekian kalinya, aku masih melihat Agung masih ragu dan pesimis terhadap terkabulnya asa-asa bersama tersebut. Dia masih saja tak pernah mencoba berhitung dengan keadaan dimana setiap kemungkinan buruk sekecil apa pun akan tetap bisa berubah menjadi sebuah kemungkinan baik. Sederhana saja yang aku inginkan dari Agung, hanya sebuah senyum kegembiraan yang terlukis di wajahnya, agar dia bisa turut merasakan apa yang dirasakan bersama. Bila nantinya asa tersebut harus kandas, toh kesedihan yang tiba akan dinikmati bersama pula. Tak ada seorang pun yang merasa kecewa sendirian, atau pun tak ada pula yang seorang diri merasakan kegembiraan. Makna sebuah solidaritas itulah yang harus lahir kembali dalam kehidupan kami saat itu.
            Para tahanan lainnya, juga berharap banyak agar kami segera keluar dari penjara. Tak lupa mereka juga meminta kenang-kenangan dari kami, bila nanti kami benar-benar dikeluarkan dari penjara ini. Bentuk apa pun kenang-kenangan tersebut, mereka mau menerimanya, seperti; sandal, kaos, celana pendek, bahkan celana dalam sekalipun.
            Namun kegembiraan kami sedikit terganggu, saat kami mendengar kabar bahwa Arindra harus dipindahkan ke rumah sakit akibat penyakit yang dideritanya semakin serius. Dalam hal ini, tentulah pihak kepolisian segera mengijinkan agar Arindra bisa dirawat di rumah sakit. Bukankah pihak kepolisian tak mau menanggung resiko yang terlalu besar dan tak mau disalahkan atas resiko tersebut, sebab Arindra dan kami semua adalah ‘sampah buangan’ dari Deninteldam V/Brawijaya ?
            Sebenarnya sudah sejak kurang lebih seminggu yang lalu, sekitar 15 September 1996, kawan-kawan telah membicarakan tentang Arindra dengan penyakitnya yang kian terlihat parah dan melemahkan kondisi fisik Arindra. Begitu pula keluarga Arindra yang terlihat hampir tiap hari mengunjungi Arindra, bahkan di luar jam bezuk, untuk selalu menanyakan kondisi kesehatan Arindra. Sementara kami tak mampu berbuat banyak terhadap Arindra, sebab kami pun juga terkurung di penjara ini bersamanya.
            Arindra, yang kutahu, dia memang telah memperlihatkan kelemahan kondisi fisiknya yang parah, asemnjak dia bersamaku melewati masa-masa sulit di Deninteldam V/Brawijaya. Sebenarnya dia pun telah memiliki penyakit, sebelum dia terperangkap di markas intelejen tersebut. Namun aku yakin pasti, bahwa di kamp militer itulah penyakit Arindra bertambah parah, dan kian menyakitkan pula ketika dia harus mendekam di penjara pengap ini. Semua itu tak bisa dilepaskan dari pengaruh siksaan fisik dan jiwa yang dialami Arindra, saat di Deninteldam V/Brawijaya. Kelemahan fisik yang terutama kian bertambah, dan bukan menjadi lebih baik saat Arindra menempati ruang sel ini.
            Sungguh, aku bisa merasakan apa yang diderita Arindra. Meski aku mengalami sakit seperti dia. Bukankah selama waktu kurang lebih dua minggu di Deninteldam V/Brawijaya, sebenarnya telah mendidikku untuk lebih mampu secara baik merasakan penderitaan orang-orang yang tersiksa. Walaupun tak satu detik pun para intelejen di markas tersebut mendidik aku tentang itu.
            Sebenarnya saat itu, Ana pun hendak dipindahkan ke rumah sakit, akibat penyakit yang dideritanya. Tetapi aku tak tahu pasti, penyakit apa yang diderita Ana. Tetapi menurut kawan-kawan di blok B, ada luka lama di sekitar dada Ana yang harus segera mendapat perawatan dokter. Tetapi karena hal tersebut ternyata masih bisa ditangguhkan, maka Ana tak jadi dipindahkan ke rumah sakit.
            Maka akhirnya, hanya Arindra yang dipindahkan ke ruamh sakit. Aku hanya ingat bahwa saat itu, seusai Magrib, Arindra dijemput oleh Ibu, kakak perempuannya, adik lelakinya.

No comments: