Pembicaraan kami dengan para orang tua kami, saat
bezukan tiba, hampir selalu berkisar mengenai kabar tersebut. Bahkan kini
berlanjut, bahwa penangguhan penahanan kami segera turun atau diberikan dari
pihak kepolisian atas nama kuasa Kasatserse, Pak Oegroseno. Demikian pula para
penasehat hukum kami pun juga tampak gembira mendengar berita baik tersebut.
Hal tersebut segera akan terwujud sejak tanggal 23 September 1996, dan itu
artinya kami akan segera pula menghirup udara bebas di luar penjara ini. Itulah
yang membuat kami semua di penjra ini selalu berharap besar mengenai
terwujudnya berita baik tersebut.
Untuk
kesekian kalinya, aku masih melihat Agung masih ragu dan pesimis terhadap
terkabulnya asa-asa bersama tersebut. Dia masih saja tak pernah mencoba
berhitung dengan keadaan dimana setiap kemungkinan buruk sekecil apa pun akan
tetap bisa berubah menjadi sebuah kemungkinan baik. Sederhana saja yang aku
inginkan dari Agung, hanya sebuah senyum kegembiraan yang terlukis di wajahnya,
agar dia bisa turut merasakan apa yang dirasakan bersama. Bila nantinya asa
tersebut harus kandas, toh kesedihan yang tiba akan dinikmati bersama pula. Tak
ada seorang pun yang merasa kecewa sendirian, atau pun tak ada pula yang
seorang diri merasakan kegembiraan. Makna sebuah solidaritas itulah yang harus
lahir kembali dalam kehidupan kami saat itu.
Para
tahanan lainnya, juga berharap banyak agar kami segera keluar dari penjara. Tak
lupa mereka juga meminta kenang-kenangan dari kami, bila nanti kami benar-benar
dikeluarkan dari penjara ini. Bentuk apa pun kenang-kenangan tersebut, mereka
mau menerimanya, seperti; sandal, kaos, celana pendek, bahkan celana dalam
sekalipun.
Namun
kegembiraan kami sedikit terganggu, saat kami mendengar kabar bahwa Arindra
harus dipindahkan ke rumah sakit akibat penyakit yang dideritanya semakin
serius. Dalam hal ini, tentulah pihak kepolisian segera mengijinkan agar
Arindra bisa dirawat di rumah sakit. Bukankah pihak kepolisian tak mau
menanggung resiko yang terlalu besar dan tak mau disalahkan atas resiko
tersebut, sebab Arindra dan kami semua adalah ‘sampah buangan’ dari Deninteldam
V/Brawijaya ?
Sebenarnya
sudah sejak kurang lebih seminggu yang lalu, sekitar 15 September 1996,
kawan-kawan telah membicarakan tentang Arindra dengan penyakitnya yang kian
terlihat parah dan melemahkan kondisi fisik Arindra. Begitu pula keluarga
Arindra yang terlihat hampir tiap hari mengunjungi Arindra, bahkan di luar jam
bezuk, untuk selalu menanyakan kondisi kesehatan Arindra. Sementara kami tak
mampu berbuat banyak terhadap Arindra, sebab kami pun juga terkurung di penjara
ini bersamanya.
Arindra,
yang kutahu, dia memang telah memperlihatkan kelemahan kondisi fisiknya yang
parah, asemnjak dia bersamaku melewati masa-masa sulit di Deninteldam
V/Brawijaya. Sebenarnya dia pun telah memiliki penyakit, sebelum dia
terperangkap di markas intelejen tersebut. Namun aku yakin pasti, bahwa di kamp
militer itulah penyakit Arindra bertambah parah, dan kian menyakitkan pula
ketika dia harus mendekam di penjara pengap ini. Semua itu tak bisa dilepaskan
dari pengaruh siksaan fisik dan jiwa yang dialami Arindra, saat di Deninteldam
V/Brawijaya. Kelemahan fisik yang terutama kian bertambah, dan bukan menjadi
lebih baik saat Arindra menempati ruang sel ini.
Sungguh,
aku bisa merasakan apa yang diderita Arindra. Meski aku mengalami sakit seperti
dia. Bukankah selama waktu kurang lebih dua minggu di Deninteldam V/Brawijaya,
sebenarnya telah mendidikku untuk lebih mampu secara baik merasakan penderitaan
orang-orang yang tersiksa. Walaupun tak satu detik pun para intelejen di markas
tersebut mendidik aku tentang itu.
Sebenarnya
saat itu, Ana pun hendak dipindahkan ke rumah sakit, akibat penyakit yang
dideritanya. Tetapi aku tak tahu pasti, penyakit apa yang diderita Ana. Tetapi
menurut kawan-kawan di blok B, ada luka lama di sekitar dada Ana yang harus
segera mendapat perawatan dokter. Tetapi karena hal tersebut ternyata masih
bisa ditangguhkan, maka Ana tak jadi dipindahkan ke rumah sakit.
Maka
akhirnya, hanya Arindra yang dipindahkan ke ruamh sakit. Aku hanya ingat bahwa
saat itu, seusai Magrib, Arindra dijemput oleh Ibu, kakak perempuannya, adik
lelakinya.
No comments:
Post a Comment