SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

16 July 2008

Memasuki Polwiltabes Surabaya (2)


Seperti biasanya, mataku yang nakal ini mengamati setiap ruangan ini. Kurang lebih enam meja kantor memenuhi ruangan ini. Terlihat sebuah komputer memojok di sudut kanan ruangan. Data-data kriminalitas narkotika tertulis rapi di papan yang menempel di dinding. Tampak pula gambar-gambar benda narkotika; ganja, heroin, atau opium. Sebuah papan yang berada di belakang interogatorku ini memberitahuku bahwa lelaki dihadapanku ini bernama Mochtar dengan pangkat kepolisian Sersan Kepala (Serka). Televisi di atas lemari arsip itu bergambar sebuah film anak-anak. Lucu sekali film itu. Pasti adik lelaki-ku saat ini sedang menikmati acara  televisi tersebut. 
            “Ibumu sudah tahu, kalau kamu ada di Polwiltabes….?”
            “Eee..nggak tahu, Pak.”
            “Jadi Ibumu nggak tahu…?”
            “Maksud saya, bukan Ibu yang nggak tahu. Tapi saya nggak tahu. Apakah Ibu tahu kalau saya disini, atau tidak. Jadi saya yang nggak tahu…”
            “Kok kamu bisa bilang, kamu nggak tahu…?”
            “Ya mana saya tahu, Pak. Soalnya waktu di Denintel , saya nggak pernah ketemu Ibu…”
            “Kenapa…? Nggak boleh…?”
            “Ya mungkin saya dianggap tokohnya PRD Surabaya, jadi Ibu saya sendiri saja mau ketemu saya sampai nggak boleh.”
            Lelaki yang akhirnya kupanggil dengan nama Pak Mochtar ini hanya tersenyum tipis, sembari menganggukkan kepala tanda memaklumi keadaanku. Lalu dia membuka-buka bundel BAP-ku hasil dari pemeriksaanku selama di Deninteldam V/Brawijaya.
            “Kamu di sana diperlakukan apa saja….,” tanya Pak Mochtar sambil jemarinya masih membuka satu demi satu lembar BAP-ku.
            “Apa perlu saya kasih tahu, Pak…”
            “Kamu di sana, dibina kayak apa….”
            “Saya kira Pak Mochtar pasti sudah tahu. Semua orang juga pasti sudah tahu, kalau kelakuan tentara itu ya seperti itu…”
            Pak Mochtar terlihat cuma menggeleng-gelengkan kepalanya. Dari sinar matanya aku melihat keibaannya padaku. Sementara aku masih dengan santainya menikmati rokokku dan sekali-kali mengamati ruangan ini.
            Clak..clak…tak…tak…. Suara mesin ketik di hadapanku telah kudengar. Interogasi segera dimulai.
            “Sekarang tanggal 2 ya, Vid….?” tanya Pak Mochtar padaku. Aku tidak lagi dipanggil dengan sebutan ‘Kris’  seperti di Deninteldam V/Brawijaya.
            “Tanggal…., iya tanggal 2, Pak..”
            Seusai kuucapkan kata tersebut, teringatlah aku bahwa tanggal 2 September ini adalah hari ulang tahun seorang perempuan yang namanya pernah tersimpan indah di hatiku ; Trully Nurul Ervandiari. Sungguh, tiba-tiba aku menjadi cengeng. Hatiku menjadi menangis. Saat aku harus menerima keadaan menyakitkan, sebagai tahanan politik dan sebentar lagi dijebloskan dalam penjara. Saat ini pula, di tempat lain, seorang perempuan yang pernah menghiasi hari-hari laluku tengah menikmati kebahagiaan di hari kelahirannya yang ke-21. Selamat ulang tahun, Trully. terucap dalam hatiku yang lemah.
            Pemeriksaan terhadap diriku dimulai sekitar pukul 18.45. Meski aku tahu bahwa aku harus didampingi pengacara sebagai kekuatan hukum-ku. Namun saat ini aku merasa belum perlu didampingi oleh seorang pengacara. Tetapi memang tadi Pak Mochtar telah mengatakan padaku bahwa aku boleh minta didampingi oleh pengacara.
            “Semua keteranganmu di BAP ini, memang kamu lakukan…?”
            “Iya sekarang begini saja, Pak. Bapak ingin keterangan saya yang sekarang, atau keterangan saya yang di Denintel itu…?”
            “Ya sekarang kita mulai saja dulu… Saya tidak mengambil semua keteranganmu yang di BAP Denintel ini. Saya hanya menanyakan lagi, keterangan-keterangan yang penting saja, “ ujar Pak Mochtar. Jari-jarinya sibuk mencari keterangan di halaman demi halaman BAP-ku.
            “Pokoknya terserah Pak Mochtar saja. Toh ini semua sudah diatur sama yang di pusat. Oh ya , Pak, kalau bisa agak cepat sedikit. Soalnya perut saya lapar. Pengen makan, Pak.”
            “Sebentar, Vid. Santai saja. Saya juga lapar. Nanti kita makan sama-sama.,” ucap Pak Mochtar dengan senyumnya yang bersahabat. Aku pun membalas senyuman itu.

No comments: