Seperti biasanya, mataku yang nakal
ini mengamati setiap ruangan ini. Kurang lebih enam meja kantor memenuhi
ruangan ini. Terlihat sebuah komputer memojok di sudut kanan ruangan. Data-data
kriminalitas narkotika tertulis rapi di papan yang menempel di dinding. Tampak
pula gambar-gambar benda narkotika; ganja, heroin, atau opium. Sebuah papan
yang berada di belakang interogatorku ini memberitahuku bahwa lelaki
dihadapanku ini bernama Mochtar dengan pangkat kepolisian Sersan Kepala
(Serka). Televisi di atas lemari arsip itu bergambar sebuah film anak-anak.
Lucu sekali film itu. Pasti adik lelaki-ku saat ini sedang menikmati acara televisi tersebut.
“Ibumu
sudah tahu, kalau kamu ada di Polwiltabes….?”
“Eee..nggak
tahu, Pak.”
“Jadi Ibumu nggak tahu…?”
“Maksud
saya, bukan Ibu yang nggak tahu. Tapi saya nggak tahu. Apakah Ibu tahu kalau
saya disini, atau tidak. Jadi saya yang nggak tahu…”
“Kok
kamu bisa bilang, kamu nggak tahu…?”
“Ya
mana saya tahu, Pak. Soalnya waktu di Denintel , saya nggak pernah ketemu Ibu…”
“Kenapa…?
Nggak boleh…?”
“Ya
mungkin saya dianggap tokohnya PRD Surabaya, jadi Ibu saya sendiri saja mau
ketemu saya sampai nggak boleh.”
Lelaki
yang akhirnya kupanggil dengan nama Pak Mochtar ini hanya tersenyum tipis,
sembari menganggukkan kepala tanda memaklumi keadaanku. Lalu dia membuka-buka
bundel BAP-ku hasil dari pemeriksaanku selama di Deninteldam V/Brawijaya.
“Kamu
di sana diperlakukan apa saja….,” tanya Pak Mochtar sambil jemarinya masih
membuka satu demi satu lembar BAP-ku.
“Apa
perlu saya kasih tahu, Pak…”
“Kamu
di sana, dibina kayak apa….”
“Saya
kira Pak Mochtar pasti sudah tahu. Semua orang juga pasti sudah tahu, kalau
kelakuan tentara itu ya seperti itu…”
Pak
Mochtar terlihat cuma menggeleng-gelengkan kepalanya. Dari sinar matanya aku
melihat keibaannya padaku. Sementara aku masih dengan santainya menikmati
rokokku dan sekali-kali mengamati ruangan ini.
Clak..clak…tak…tak….
Suara mesin ketik di hadapanku telah kudengar. Interogasi segera dimulai.
“Sekarang
tanggal 2 ya, Vid….?” tanya Pak Mochtar padaku. Aku tidak lagi dipanggil dengan
sebutan ‘Kris’ seperti di Deninteldam
V/Brawijaya.
“Tanggal….,
iya tanggal 2, Pak..”
Seusai
kuucapkan kata tersebut, teringatlah aku bahwa tanggal 2 September ini adalah
hari ulang tahun seorang perempuan yang namanya pernah tersimpan indah di
hatiku ; Trully Nurul Ervandiari. Sungguh, tiba-tiba aku menjadi cengeng.
Hatiku menjadi menangis. Saat aku harus menerima keadaan menyakitkan, sebagai
tahanan politik dan sebentar lagi dijebloskan dalam penjara. Saat ini pula, di tempat
lain, seorang perempuan yang pernah menghiasi hari-hari laluku tengah menikmati
kebahagiaan di hari kelahirannya yang ke-21. Selamat ulang tahun, Trully.
terucap dalam hatiku yang lemah.
Pemeriksaan
terhadap diriku dimulai sekitar pukul 18.45. Meski aku tahu bahwa aku harus
didampingi pengacara sebagai kekuatan hukum-ku. Namun saat ini aku merasa belum
perlu didampingi oleh seorang pengacara. Tetapi memang tadi Pak Mochtar telah
mengatakan padaku bahwa aku boleh minta didampingi oleh pengacara.
“Semua
keteranganmu di BAP ini, memang kamu lakukan…?”
“Iya
sekarang begini saja, Pak. Bapak ingin keterangan saya yang sekarang, atau
keterangan saya yang di Denintel itu…?”
“Ya
sekarang kita mulai saja dulu… Saya tidak mengambil semua keteranganmu yang di
BAP Denintel ini. Saya hanya menanyakan lagi, keterangan-keterangan yang
penting saja, “ ujar Pak Mochtar. Jari-jarinya sibuk mencari keterangan di
halaman demi halaman BAP-ku.
“Pokoknya
terserah Pak Mochtar saja. Toh ini semua sudah diatur sama yang di pusat. Oh ya
, Pak, kalau bisa agak cepat sedikit. Soalnya perut saya lapar. Pengen makan,
Pak.”
“Sebentar,
Vid. Santai saja. Saya juga lapar. Nanti kita makan sama-sama.,” ucap Pak
Mochtar dengan senyumnya yang bersahabat. Aku pun membalas senyuman itu.
No comments:
Post a Comment