SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

16 July 2008

Memasuki Polwiltabes Surabaya (3)


Pemeriksaanku dimulai pada persoalan aktifitasku semenjak menjadi aktivis SMID hingga terpilih menjadi aktifis Jaker. Keteranganku mengenai hal itu memang tak terlalu jauh berbeda, dengan keterangan yang kuberikan di Deninteldam V/Brawijaya. Kemudian berlanjut pula mengenai demonstrasi apa saja yang pernah aku ikuti selama menjadi aktivis SMID atau pun Jaker.
            Sela-sela interogasi itu, tiba-tiba seseorang berwajah penuh amarah mendatangi kami.
            “PRD samakan saja dengan BAP Denintel. Biar cepat selesai, kasus kita nggak cuma ngurusi PRD,” ucapnya kepada Pak Mochtar, dengan nada keras. Rupanya dia memerintahkan kepada Pak Mochtar agar menyalin keteranganku dari BAP Denintel ke BAP kepolisian.
            “Kalau keteranganmu berbeda dengan apa yang ada di BAP Denintel, kamu saya kembalikan ke Denintel lagi. Mau saya kembalikan lagi ke Denintel…?!”
            Aku diam tak menjawab pertanyaan yang memang tak perlu kujawab tersebut.
            Di kemudian hari aku mengetahui bahwa lelaki yang marah-marah tersebut adalah Pak Rochmat, yang berpangkat Kapten Polisi dan bertugas sebagai Kepala Unit Reserse Ekonomi (Kanit Resek).
Setelah lelaki tersebut pergi meninggalkan kami, lalu aku pun diperiksa kembali. Kali ini pertanyaannya adalah;  Apakah aku mengenal para aktivis yang sekarang ditahan di penjara Polwiltabes Surabaya, seperti; Dita, Coen Pontoh, Soleh, Zainal, Trio, atau Lisa Febriyanti.  Aku pun menjelaskan bahwa aku mengenal mereka semua.
            “Kalau Budiman Sudjatmiko…..?”
            “Iya kenal, Pak.”
            “Budiman kenal kamu juga….?”
            “Iya namanya teman, pasti ya saling kenal, Pak. Kalau nggak percaya ya tanya saja sama Budiman, kenal saya atau nggak.”
            Kemudian Pak Mochtar pun bertanya soal keterlibatanku dalam aksi buruh-mahasiswa yang terjadi di kawasan Simo Pomahan pada tanggal 8 dan 9 Juli 1996. Aku pun memberikan keterangan yang seadanya. Artinya, apa yang kutahu sebatas tugasku sebagai “kurir Sentral Informasi” kala itu.
            Sekitar pukul 21.00, pemeriksaanku pun berhenti.
            “Sudah ya, Vid. Besok Pagi dilanjutkan lagi, ya. Sekarang saya mau makan. Kamu juga mau makan, kan…?”
            Segera Pak Mochtar merapikan berkas-berkasnya. Kemudian menyuruhku menandatangi dan membubuhkan cap jempolku di BAP-ku yang baru ini. Kemudian Pak Mochtar menyimpan rapi BAP-ku tersebut. Lalu aku dirangkulnya lagi menuju ruang piket.
            “Pak, David Kris saya kembalikan lagi. Terima kasih,” kata Pak Mochtar ramah terhadap para petugas piket tersebut. Akhirnya aku bertemu kembali dengan kawan-kawan; Syafi’I, Ganjar yang sedang ditemui oleh keluarganya, dan Arindra. Sedangkan Brewok masih belum juga selesai diperiksa oleh interogatornya.
            Tiba-tiba para petugas piket memerintahkan kepada kami agar pindah ke ruang Resek (Reserse Ekonomi). Menurut Syafi’I, biasanya ada wartawan yang datang hendak mewawancarai kami sebagai tahanan politik baru. Para polisi ini tidak mau bila kami nanti akan bicara macam-macam saat diwawancarai tersebut. Maka itulah kami segera dipindahkan dari ruang piket ini.
            Hanpir satu jam lamanya, kami berada di ruang Resek ini.
            “David Kris…! Mana David Kris…?!”
            “Saya, Pak…”
            “Ada keluargamu pengen ketemu,” ucap ramah seorang reserse tersebut.
            Ibu…, ya pasti Ibu. Akhirnya aku bisa bertemu dengan Ibu lagi.
            Lalu 2 lelaki memasuki ruang Resek ini; Pakde Didik dan seorang temannya. Pakde Didik segera menghampiriku dan memeluk aku erat-erat. Isak tangis kakak lelaki Ibuku ini terdengar di telingaku.
            “Kuat ya, Vid… Kamu harus kuat….,” bisik saudaraku itu dengan tangis sesengukannya, dan pelukannya kian rapat mengikat tubuhku. Aku pun membalas bisikannya bahwa aku baik-baik saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Pakde Didik pun melepaskan pelukannya.
            “Mana Ibu…?”
            Aku ingin segera bertemu Ibu.
            Ternyata Ibu tidak ikut, dan Pakde Didik berjanji padaku bahwa besok pagi pasti Ibu akan datang menjenguk aku. Kami berjumpa tak lama, sebab waktu yang diberikan oleh petugas piket memang tak banyak. Sebelum pergi, Pakde Didik memberikan padaku sebuah tas plastik hitam, yang berisi beberapa bungkus rokok.
            Sekembali ke ruang piket, Syafi’I memesankan aku sepiring nasi goreng dan segelas kopi panas. Makan malamku itu sungguh melezatkan. Sesuatu kenikmatan yang tak pernah kurasakan selama kurang lebih 2 minggu di Deninteldam V/Brawijaya. Seusai makan malam, aku menghisap rokok Djarum Super 12 kesukaanku kala itu, sambil berbincang-bincang dengan Syafi’i. Waktu pun bergulir pukul 23.00, kami segera disuruh tidur oleh petugas piket. Adapun aku dan Arindra tidur di bawah meja piket, beralas koran-koran bekas untuk menahan hawa lembab dari lantai.

No comments: