Pemeriksaanku dimulai pada persoalan aktifitasku
semenjak menjadi aktivis SMID hingga terpilih menjadi aktifis Jaker.
Keteranganku mengenai hal itu memang tak terlalu jauh berbeda, dengan
keterangan yang kuberikan di Deninteldam V/Brawijaya. Kemudian berlanjut pula
mengenai demonstrasi apa saja yang pernah aku ikuti selama menjadi aktivis SMID
atau pun Jaker.
Sela-sela
interogasi itu, tiba-tiba seseorang berwajah penuh amarah mendatangi kami.
“PRD
samakan saja dengan BAP Denintel. Biar cepat selesai, kasus kita nggak cuma
ngurusi PRD,” ucapnya kepada Pak Mochtar, dengan nada keras. Rupanya dia
memerintahkan kepada Pak Mochtar agar menyalin keteranganku dari BAP Denintel
ke BAP kepolisian.
“Kalau
keteranganmu berbeda dengan apa yang ada di BAP Denintel, kamu saya kembalikan
ke Denintel lagi. Mau saya kembalikan lagi ke Denintel…?!”
Aku
diam tak menjawab pertanyaan yang memang tak perlu kujawab tersebut.
Di
kemudian hari aku mengetahui bahwa lelaki yang marah-marah tersebut adalah Pak
Rochmat, yang berpangkat Kapten Polisi dan bertugas sebagai Kepala Unit Reserse
Ekonomi (Kanit Resek).
Setelah lelaki tersebut pergi
meninggalkan kami, lalu aku pun diperiksa kembali. Kali ini pertanyaannya adalah; Apakah aku mengenal para aktivis yang
sekarang ditahan di penjara Polwiltabes Surabaya, seperti; Dita, Coen Pontoh,
Soleh, Zainal, Trio, atau Lisa Febriyanti.
Aku pun menjelaskan bahwa aku mengenal mereka semua.
“Kalau
Budiman Sudjatmiko…..?”
“Iya kenal,
Pak.”
“Budiman
kenal kamu juga….?”
“Iya
namanya teman, pasti ya saling kenal, Pak. Kalau nggak percaya ya tanya saja
sama Budiman, kenal saya atau nggak.”
Kemudian
Pak Mochtar pun bertanya soal keterlibatanku dalam aksi buruh-mahasiswa yang
terjadi di kawasan Simo Pomahan pada tanggal 8 dan 9 Juli 1996. Aku pun
memberikan keterangan yang seadanya. Artinya, apa yang kutahu sebatas tugasku
sebagai “kurir Sentral Informasi” kala itu.
Sekitar
pukul 21.00, pemeriksaanku pun berhenti.
“Sudah
ya, Vid. Besok Pagi dilanjutkan lagi, ya. Sekarang saya mau makan. Kamu juga
mau makan, kan…?”
Segera
Pak Mochtar merapikan berkas-berkasnya. Kemudian menyuruhku menandatangi dan
membubuhkan cap jempolku di BAP-ku yang baru ini. Kemudian Pak Mochtar
menyimpan rapi BAP-ku tersebut. Lalu aku dirangkulnya lagi menuju ruang piket.
“Pak,
David Kris saya kembalikan lagi. Terima kasih,” kata Pak Mochtar ramah terhadap
para petugas piket tersebut. Akhirnya aku bertemu kembali dengan kawan-kawan;
Syafi’I, Ganjar yang sedang ditemui oleh keluarganya, dan Arindra. Sedangkan
Brewok masih belum juga selesai diperiksa oleh interogatornya.
Tiba-tiba
para petugas piket memerintahkan kepada kami agar pindah ke ruang Resek
(Reserse Ekonomi). Menurut Syafi’I, biasanya ada wartawan yang datang hendak
mewawancarai kami sebagai tahanan politik baru. Para polisi ini tidak mau bila
kami nanti akan bicara macam-macam saat diwawancarai tersebut. Maka itulah kami
segera dipindahkan dari ruang piket ini.
Hanpir
satu jam lamanya, kami berada di ruang Resek ini.
“David
Kris…! Mana David Kris…?!”
“Saya,
Pak…”
“Ada
keluargamu pengen ketemu,” ucap ramah seorang reserse tersebut.
Ibu…,
ya pasti Ibu. Akhirnya aku bisa bertemu dengan Ibu lagi.
Lalu
2 lelaki memasuki ruang Resek ini; Pakde Didik dan seorang temannya. Pakde
Didik segera menghampiriku dan memeluk aku erat-erat. Isak tangis kakak lelaki
Ibuku ini terdengar di telingaku.
“Kuat
ya, Vid… Kamu harus kuat….,” bisik saudaraku itu dengan tangis sesengukannya,
dan pelukannya kian rapat mengikat tubuhku. Aku pun membalas bisikannya bahwa
aku baik-baik saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Pakde Didik pun
melepaskan pelukannya.
“Mana
Ibu…?”
Aku
ingin segera bertemu Ibu.
Ternyata
Ibu tidak ikut, dan Pakde Didik berjanji padaku bahwa besok pagi pasti Ibu akan
datang menjenguk aku. Kami berjumpa tak lama, sebab waktu yang diberikan oleh
petugas piket memang tak banyak. Sebelum pergi, Pakde Didik memberikan padaku
sebuah tas plastik hitam, yang berisi beberapa bungkus rokok.
Sekembali
ke ruang piket, Syafi’I memesankan aku sepiring nasi goreng dan segelas kopi
panas. Makan malamku itu sungguh melezatkan. Sesuatu kenikmatan yang tak pernah
kurasakan selama kurang lebih 2 minggu di Deninteldam V/Brawijaya. Seusai makan
malam, aku menghisap rokok Djarum Super 12 kesukaanku kala itu, sambil
berbincang-bincang dengan Syafi’i. Waktu pun bergulir pukul 23.00, kami segera
disuruh tidur oleh petugas piket. Adapun aku dan Arindra tidur di bawah meja
piket, beralas koran-koran bekas untuk menahan hawa lembab dari lantai.
No comments:
Post a Comment