SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

17 July 2008

Memasuki Polwiltabes Surabaya (4)


Selasa Pagi di tanggal 3 September 1996, aku telah menikmati sarapan pagiku dan menikmati hangatnya kopi. Sementara ketiga kawanku; Brewok, Ganjar dan Arindra; telah dipanggil untuk melanjutkan acara pemeriksaan. Aku dan Syafi’i duduk berdua dekat petugas piket sambil melihat lalu lalang orang yang melakukan aktifitas di kantor polisi ini.
            “Gimana….? Sudah sarapan….?”
            Suara Pak Mochtar tiba-tiba mengagetkan aku.
            Kemudian reserse yang menjadi penyidikku ini segera membawa ke ruang yang sama seperti kemarin malam. Hampir pukul 10.00, aku memulai pemeriksaan itu. Kuamati ruangan ini. Tak sesepi kemarin malam. Kini, hampir semua meja telah terisi dengan para reserse-nya. Seorang pemuda keturunan Tionghoa, yang tampak usia-nya di bawahku, kulihat sedang ‘wajib lapor’. Melihat penampilannya, dugaanku adalah bahwa dia terlibat kasus narkotika.
            Pemeriksaan terhadap diriku berlanjut. Kali ini pertanyaan mengenai terjadinya aksi buruh- mahasiswa di kawasan Tanjungsari yang pula pada tanggal 8 dan 9 Juli 1996.
            “Saya tidak tahu soal Tanjungsari, Pak. Waktu itu saya ada di Simo Pomahan.”
            “Saat di Simo Pomahan, kamu berada di mana…? Kamu ada di dalam aksi demonstrasi tersebut…?”
            “Tidak, Pak. Saya berada jauh dari aksi demonstrasi tersebut. Kira-kira 25 meter dari barisan massa. Saya ada di antara orang-orang sekitar situ yang sedang menonton demonstrasi itu, Pak.”
            “Lalu apa yang kamu lakukan di tempat itu…”                   
            “Seperti yang saya katakan kemarin. Saya hanya mencatat kejadian demonstrasi tersebut di kertas kecil.”
            “Sekarang kamu tulis, apa yang dulu kamu tulis di kertas kecil itu. Seingat kamu saja….”
            Aku pun segera menuliskan kronologis aksi massa yang terjadi di kawasan Simo Pomahan pada tanggal 8  Juli 1996, di sebuah selembar kertas yang diberikan Pak Mochtar kepadaku.
            Setelah aku tuliskan secara rinci, mengenai kronologi unjuk rasa tersebut;
            “Sekarang kertas catatanmu itu, kamu taruh mana….?” tanya  Pak Mochtar kepadaku.
            “ya sudah saya buang, Pak….,” jawabku pasti.
            “Kapan…..?”
            “Iya…setelah kronologi itu saya laporkan ke Sentral Informasi, Pak. Jadi hari itu juga saya buang…”
            “Kenapa nggak kamu simpan….?”
            “Iya memang tugasnya gitu, Pak.. Jadi kalau sudah selesai melaporkan ke Sentral Informasi , memang harus segera dimusnahkan…”
            “Kamu buang kemana…”
            “Kertas catatan itu saya ‘untel-untel’….”
            “Di ‘untel-untel’ itu apa…?”
            Rupanya Pak Mochtar menghendaki aku agar berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
            “Apa ya..Pak….iya…diremas-remas….,” jawabku sambil memperagakan bagaimana meremas-remas selembar kertas.
            “Saya buang ke sungai daerah Simo Jawar, dekat tempat saya telpon untuk menghubungi Sentral Informasi….,” lanjutku.
            “Waktu itu sama siapa….?”
            “Saya sendirian, Pak.”
            “Kamu yakin kalau kamu sendirian..?”
            “Yakin, Pak. Dan memang nggak ada yang tahu kalau saya di sana.”
            “Kamu kok sendirian…?” Masak nggak ada temanmu yang saat kejadian itu melihat kamu…?”
            “Begini ya, Pak. Saya memang harus sendirian, Pak. Saya tidak boleh diketahui oleh teman-teman, apalagi sama intel. Tugas saya memang rahasia, dan harus rahasia. Itu tugas saya…”
            Pak Mochtar kemudian segera mengetik semua keterangan yang telah kuberikan tadi, dalam berkas-berkas BAP kepolisian.

No comments: