Selasa Pagi di tanggal 3 September 1996, aku telah
menikmati sarapan pagiku dan menikmati hangatnya kopi. Sementara ketiga
kawanku; Brewok, Ganjar dan Arindra; telah dipanggil untuk melanjutkan acara
pemeriksaan. Aku dan Syafi’i duduk berdua dekat petugas piket sambil melihat
lalu lalang orang yang melakukan aktifitas di kantor polisi ini.
“Gimana….?
Sudah sarapan….?”
Suara
Pak Mochtar tiba-tiba mengagetkan aku.
Kemudian
reserse yang menjadi penyidikku ini segera membawa ke ruang yang sama seperti
kemarin malam. Hampir pukul 10.00, aku memulai pemeriksaan itu. Kuamati ruangan
ini. Tak sesepi kemarin malam. Kini, hampir semua meja telah terisi dengan para
reserse-nya. Seorang pemuda keturunan Tionghoa, yang tampak usia-nya di
bawahku, kulihat sedang ‘wajib lapor’. Melihat penampilannya, dugaanku adalah
bahwa dia terlibat kasus narkotika.
Pemeriksaan
terhadap diriku berlanjut. Kali ini pertanyaan mengenai terjadinya aksi buruh-
mahasiswa di kawasan Tanjungsari yang pula pada tanggal 8 dan 9 Juli 1996.
“Saya
tidak tahu soal Tanjungsari, Pak. Waktu itu saya ada di Simo Pomahan.”
“Saat
di Simo Pomahan, kamu berada di mana…? Kamu ada di dalam aksi demonstrasi
tersebut…?”
“Tidak,
Pak. Saya berada jauh dari aksi demonstrasi tersebut. Kira-kira 25 meter dari
barisan massa. Saya ada di antara orang-orang sekitar situ yang sedang menonton
demonstrasi itu, Pak.”
“Lalu
apa yang kamu lakukan di tempat itu…”
“Seperti
yang saya katakan kemarin. Saya hanya mencatat kejadian demonstrasi tersebut di
kertas kecil.”
“Sekarang
kamu tulis, apa yang dulu kamu tulis di kertas kecil itu. Seingat kamu saja….”
Aku
pun segera menuliskan kronologis aksi massa yang terjadi di kawasan Simo
Pomahan pada tanggal 8 Juli 1996, di
sebuah selembar kertas yang diberikan Pak Mochtar kepadaku.
Setelah
aku tuliskan secara rinci, mengenai kronologi unjuk rasa tersebut;
“Sekarang
kertas catatanmu itu, kamu taruh mana….?” tanya
Pak Mochtar kepadaku.
“ya sudah saya buang, Pak….,” jawabku
pasti.
“Kapan…..?”
“Iya…setelah
kronologi itu saya laporkan ke Sentral Informasi, Pak. Jadi hari itu juga saya
buang…”
“Kenapa
nggak kamu simpan….?”
“Iya
memang tugasnya gitu, Pak.. Jadi kalau sudah selesai melaporkan ke Sentral
Informasi , memang harus segera dimusnahkan…”
“Kamu
buang kemana…”
“Kertas
catatan itu saya ‘untel-untel’….”
“Di
‘untel-untel’ itu apa…?”
Rupanya
Pak Mochtar menghendaki aku agar berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
“Apa
ya..Pak….iya…diremas-remas….,” jawabku sambil memperagakan bagaimana
meremas-remas selembar kertas.
“Saya
buang ke sungai daerah Simo Jawar, dekat tempat saya telpon untuk menghubungi
Sentral Informasi….,” lanjutku.
“Waktu
itu sama siapa….?”
“Saya
sendirian, Pak.”
“Kamu
yakin kalau kamu sendirian..?”
“Yakin,
Pak. Dan memang nggak ada yang tahu kalau saya di sana.”
“Kamu
kok sendirian…?” Masak nggak ada temanmu yang saat kejadian itu melihat kamu…?”
“Begini
ya, Pak. Saya memang harus sendirian, Pak. Saya tidak boleh diketahui oleh
teman-teman, apalagi sama intel. Tugas saya memang rahasia, dan harus rahasia.
Itu tugas saya…”
Pak
Mochtar kemudian segera mengetik semua keterangan yang telah kuberikan tadi,
dalam berkas-berkas BAP kepolisian.
No comments:
Post a Comment