Sekitar hampir pukul 11.00, aku dikejutkan oleh
kedatangan seorang perempuan usia 30-an dan 2 orang lelaki.
“David….,”
suara perempuan itu memanggilku.
Ternyata
kakak perempuanku. Mbak’i, begitu aku memanggilnya sehari-hari.
“Permisi,
Pak…,” ucapku kepada Pak Mochtar, untuk diperbolehkan bertemu dengan kakak
perempuanku.
“Oh…nggak
apa-apa, Vid. Santai saja kalau sama saya….,” jawab Pak Mochtar menghentikan
pemeriksaan terhadapku.
Kakak
perempuanku segera memeluk aku erat-erat, dengan tumpahan tetes air mata yang
membasahi bahuku. Rasa rindu ini terluapkan begitu saja, tanpa dihambat oleh
siapa pun.
“Sudah,
Mbak…, sudah…,” ucapku membisikkan kepadanya.
Lalu
kuperkenalkan kakak perempuanku kepada Pak Mochtar.
“Saya
kira tadi pacarnya David, Mbak….,” ucap Pak Mochtar dengan ramah.
Kedatangan
kakak perempuanku ini, bersama dengan Pakde Didik yang bersama temannya,
membuatku kerinduanku tersejukkan. Bisa terbayangkan, bagaimana gilanya aku
tatkala merasakan sepi dalam siksa fisik dan mental di Deninteldam V/Brawijaya,
tanpa diberi kesempatan untuk dijenguk
oleh keluargaku. Kedatangan mereka sangat menggembirakan hatiku, meski
seseorang yang paling kurindukan kehadirannya tidak turut hadir, Ibuku. Semua
ini membuatku tak bisa berkata apa-apa. Aku bingung memilih kalimat mana yang
akan kupakai untuk membuka pembicaraan, karena kegembiraan ini.
“Ibu
belum bisa ikut… Ibu masih sakit….,” kata Mbak’i kepadaku mengawali
pembicaraan.
“Sakit
apa….?!” Ucapku terkejut. Aku tak mau Ibu sakit lantaran ‘kasus’ku.
“Oh
nggak apa-apa. Paling juga masuk angin biasa…,” hibur Mbak’i menenangkan beban
pikiranku.
Aku
pun bertanya bagaimana keadaan Wawan, adik lelakiku. Sebaliknya pula Mbak’i pun
bertanya bagaimana makan dan tidurku, pakaianku, pula uangku. Semua itu tampak
ada masalah bagi kami berdua.
“Kamu
nggak nulis surat buat Ibu….?”
Aku
mengiyakan.
“Pak..,
bisa kertas, satu lembar saja …?”
Pak
Mochtar pun mengambilkan selembar kertas untukku.
“Maaf
lho, Pak, Mengganggu….,” ucap Mbak’i sambil memberikan pulpen kepadaku.
“Lho
nggak apa-apa, Mbak. Tenang saja…nggak perlu terburu-buru. David juga masih
kangen…,” balas Pak Mochtar. Lelaki itu pun kemudian membuka pembicaraan dengan
Pak Didik yang duduk di sebelah kakak perempuanku.
Aku
lalu menuliskan beberapa kata di kertas berukuran folio. Namun tak lama
kemudian, seorang reserse memanggilku untuk diajaknya ke suatu ruang
lainnya. Aku segera pergi bersama
reserse tersebut, setelah berpamitan dengan Pak Mochtar.
Ternyata
aku dibawa ke ruang sekitar ruangan reserse penanganan kasus pencurian
motor/mobil. Di salah satu ruang tersebut, aku masuk dan kujumpai Ganjar
(kemudian pula Arindra yang datang menyusul). Di ruangan tersebut, aku
dipertemukan dengan dua lelaki yang berpakaian rapi dan bersih dengan dasi menghiasi baju mereka. Salah seorang diantaranya, aku tahu adalah dari LBH
(Lembaga Bantuan Hukum) Surabaya. Ternyata setelah berkenalan, dia adalah Indro
Soegianto, direktur LBH Surabaya.
Mereka
berdua adalah wakil dari kawan-kawan penasehat hukum yang akan mendampingi para
tersangka kasus PRD, termasuk diantaranya yang telah didakwa subversif; aku,
Ganjar dan Arindra. Mereka pun menunjukkan pada kami sekitar 30 nama penasehat
hukum yang bersedia mendampingi kami, yang merupakan gabungan dari tim YLBHI
(Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia), LBH Surabaya, IKADIN (Ikatan Advokat
Indonesia). Aku melihat, ada di antaranya dua nama yang telah memiliki
popularitas sebagai penasehat hukum; Trimoelja dan Adnan Buyung Nasution.
“Jika
kalian hendak mencari pengacara lain, ya silahkan. Jika kalian bersedia untuk
kami dampingi maka kalian silahkan menandatangani surat pernyataan ini. Dan
untuk selanjutnya, dalam setiap acara pemeriksaan, kalian akan dan harus
didampingi pengacara,” jelas lelaki yang akrab kupanggil Mas Indro, kepada kami
bertiga.
Selanjutnya
kami segera menandatangani surat pernyataan tersebut, sambil menunggu
kedatangan Brewok.
No comments:
Post a Comment