SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

18 July 2008

Memasuki Polwiltabes Surabaya (6)


Setelah pertemuan kami dengan Mas Indro tersebut, kami bertiga dibawa kembali ke tempat kami semula. Aku pun dikembalikan ke ruang Rstik, tempat ruang pemeriksaanku semula.
            “Ada apa Vid, kok dipanggil…?” tanya Mbak’i.
            “Nggak…, cuma ketemu sama pengacaraku….”
            “Lho…, kamu manggil pengacara..? biaya dari mana…?”
            “Sudahlah, nggak usah kuatir, semuanya sudah ada yang ngurusi,” ujarku menenangkan kekhawatiran kakak perempuanku itu.
            Lalu aku kembali meneruskan untuk menulis surat pada Ibu, yang barusan sempat terhenti. Semua perasaanku yang tak mampu tertumpah pada Ibu, ketika di Deninteldam V/Brawijaya dulu, kini terberai dalam suratku ini. Meski singkat, aku yakin Ibu akan memahaminya dengan kedalaman arti sebuah kerinduan seorang anak.

Surabaya, 3 September 1996
Bu, David sehat-sehat, segar bugar. Sekarang kelihatan rapi/bersih sebab rambutnya sudah dipotong kayak yang Ibu pengen. David sudah dididik habis di Denintel Kodam V/Brawijaya. Sehingga David kini sudah tegar menghadapi cambuk cobaan hidup yang David terima di usia 25 tahun ini. David minta maaf pada Ibu, atas ketidakjujuran David selama ini, itulah dosa yang harus David tebus sekarang ini. Ibu nggak usah sedih, atau sampai sakit. Lakukan kebiasaan Ibu setiap hari; masak, nyuci baju, ngobrol dengan tetangga; supaya Ibu tetap bahagia. David nggak pa-pa. David sudah didampingi tim pengacara. David nggak salah apa-apa, David cuma menebus kesalahan David yang selama ini tidak jujur sama Ibu.
David ada surat buat Ibu yang David tulis sebelum David ditangkap. Surat itu ada di tumpukan baju (di lemari) di sisi kiri tumpukan surat-surat Bank Bali. Itu yang bisa David tuliskan. Mudah-mudahan Ibu bisa mengerti.




Sekarang David hanya punya Yesus dan Ibu, yang David percaya akan memberikan kekuatan agar David mampu melewati ujian ini. Salam buat teman-teman David di kampung dan di mana saja.
David Kris
Restik. Polwiltabes Surabaya.

            Kuberikan surat tersebut kepada kakak perempuanku. Lalu aku hanya berpesan padanya, agar dia mengusahakan Ibu bisa menjengukku. Kemudian kakak perempuanku, Pakde Didik bersama temannya, segera mohon diri untuk pulang.
            “Ini untuk makanmu…,” kata Mbak’i sambil menyodorkan selembar uang senilai dua puluh ribu rupiah.
            “Jangan banyak-banyak, Mbak. Bukan apa-apa…, nanti kalau ketahuan anak-anak penjara, bisa diminta sama mereka. Kan kasihan David juga. Ya secukupnya saja. Lima ribu atau berapa gitu…,” saran Pak Mochtar kepada kakak perempuanku.
            Mbak’i pun segera mengganti uang untukku tadi dengan nilai lima ribu rupiah.
            “Segini dulu ya, nanti kalau Ibu datang dikasih lagi…”
            Akhirnya mereka pun meninggalkan aku, dan tetaplah berpesan padaku agar aku kuat dan banyak berdoa.
            “Pak…sudah dulu ya…,” pintaku pada Pak Mochtar agar menghentikan pemeriksaan terhadapku lantaran aku sudah lelah.
            Pemeriksaan berlanjut….., ah ternyata tidak !
“Iya sudah…, tapi besok dilanjutkan lagi, ya…,” ujar Pak Mochtar mengabulkan permintaanku.
            Aku mengiyakan.
Hari itu aku senang karena tidak berlama-lama berhadapan dengan berbagai pertanyaan, atau yang disebut interogasi. Seperti biasanya aku pun membubuhkan cap jempol dan tanda tanganku di BAP. Kemudian Pak Mochtar mengantarku kembali menuju ke piket. Aku pun bertemu dengan Syafi’i dan Arindra.
Ternyata sejak hari itu pula aku tak pernah lagi diperiksa oleh Pak Mochtar, entah mengapa….
“Brewok sama Ganjar, masih diperiksa…?” tanyaku pada Syafi’i.
“”Mereka sudah di-sel…,” jawab Syafi’i.
Yah, tinggallah aku dan Arindra yang belum dijebloskan dalam penjara.

No comments: