Setelah pertemuan kami dengan Mas Indro tersebut, kami
bertiga dibawa kembali ke tempat kami semula. Aku pun dikembalikan ke ruang
Rstik, tempat ruang pemeriksaanku semula.
“Ada
apa Vid, kok dipanggil…?” tanya Mbak’i.
“Nggak…,
cuma ketemu sama pengacaraku….”
“Lho…,
kamu manggil pengacara..? biaya dari mana…?”
“Sudahlah,
nggak usah kuatir, semuanya sudah ada yang ngurusi,” ujarku menenangkan
kekhawatiran kakak perempuanku itu.
Lalu
aku kembali meneruskan untuk menulis surat pada Ibu, yang barusan sempat
terhenti. Semua perasaanku yang tak mampu tertumpah pada Ibu, ketika di
Deninteldam V/Brawijaya dulu, kini terberai dalam suratku ini. Meski singkat,
aku yakin Ibu akan memahaminya dengan kedalaman arti sebuah kerinduan seorang
anak.
Surabaya, 3 September 1996
Bu, David
sehat-sehat, segar bugar. Sekarang kelihatan rapi/bersih sebab rambutnya sudah
dipotong kayak yang Ibu pengen. David sudah dididik habis di Denintel Kodam
V/Brawijaya. Sehingga David kini sudah tegar menghadapi cambuk cobaan hidup
yang David terima di usia 25 tahun ini. David minta maaf pada Ibu, atas
ketidakjujuran David selama ini, itulah dosa yang harus David tebus sekarang
ini. Ibu nggak usah sedih, atau sampai sakit. Lakukan kebiasaan Ibu setiap
hari; masak, nyuci baju, ngobrol dengan tetangga; supaya Ibu tetap bahagia.
David nggak pa-pa. David sudah didampingi tim pengacara. David nggak salah
apa-apa, David cuma menebus kesalahan David yang selama ini tidak jujur sama
Ibu.
David ada
surat buat Ibu yang David tulis sebelum David ditangkap. Surat itu ada di
tumpukan baju (di lemari) di sisi kiri tumpukan surat-surat Bank Bali. Itu yang
bisa David tuliskan. Mudah-mudahan Ibu bisa mengerti.
Sekarang David
hanya punya Yesus dan Ibu, yang David percaya akan memberikan kekuatan agar
David mampu melewati ujian ini. Salam buat teman-teman David di kampung dan di
mana saja.
David
Kris
Restik.
Polwiltabes Surabaya.
Kuberikan
surat tersebut kepada kakak perempuanku. Lalu aku hanya berpesan padanya, agar
dia mengusahakan Ibu bisa menjengukku. Kemudian kakak perempuanku, Pakde Didik
bersama temannya, segera mohon diri untuk pulang.
“Ini
untuk makanmu…,” kata Mbak’i sambil menyodorkan selembar uang senilai dua puluh
ribu rupiah.
“Jangan
banyak-banyak, Mbak. Bukan apa-apa…, nanti kalau ketahuan anak-anak penjara,
bisa diminta sama mereka. Kan kasihan David juga. Ya secukupnya saja. Lima ribu
atau berapa gitu…,” saran Pak Mochtar kepada kakak perempuanku.
Mbak’i
pun segera mengganti uang untukku tadi dengan nilai lima ribu rupiah.
“Segini
dulu ya, nanti kalau Ibu datang dikasih lagi…”
Akhirnya mereka pun meninggalkan aku,
dan tetaplah berpesan padaku agar aku kuat dan banyak berdoa.
“Pak…sudah
dulu ya…,” pintaku pada Pak Mochtar agar menghentikan pemeriksaan terhadapku
lantaran aku sudah lelah.
Pemeriksaan
berlanjut….., ah ternyata tidak !
“Iya sudah…, tapi besok
dilanjutkan lagi, ya…,” ujar Pak Mochtar mengabulkan permintaanku.
Aku
mengiyakan.
Hari itu aku senang karena
tidak berlama-lama berhadapan dengan berbagai pertanyaan, atau yang disebut
interogasi. Seperti biasanya aku pun membubuhkan cap jempol dan tanda tanganku
di BAP. Kemudian Pak Mochtar mengantarku kembali menuju ke piket. Aku pun
bertemu dengan Syafi’i dan Arindra.
Ternyata sejak hari itu pula
aku tak pernah lagi diperiksa oleh Pak Mochtar, entah mengapa….
“Brewok sama Ganjar, masih
diperiksa…?” tanyaku pada Syafi’i.
“”Mereka sudah di-sel…,”
jawab Syafi’i.
Yah, tinggallah aku dan
Arindra yang belum dijebloskan dalam penjara.
No comments:
Post a Comment