Sesampai di halaman depan
ruang tahanan, yang memang kami lewati kembali, ternyata telah banyak orang
menunggu kehadiran kami. Mereka adalah ; para petugas jaga, para orang tua dan
sanak saudara kami, serta para wartawan yang siap menghadang kami. Sementara di
sisi kanan kami, terlihat teman-teman kami para tahanan kriminal itu bersusah
payah melambaikan tangan mengucap salam perpisahan kepada kami.
Kami semua berbaur dalam
kerinduan yang lepas begitu saja, seiring dengan haru yang berkecamuk dalam
jiwa kami masing-masing.
Aku sendiri saat itu hanya
dijemput oleh kakak perempuanku, Mbak’i dan saudara sepupuku, Mas Budi. Kami
bertiga segera menghambur menembus kerumunan di lorong jalanan menuju ke
halaman belakang kantor kepolisian kota besar ini. Beberapa wartawan yang
memancarkan kilatan-kilatan blitz kameranya, tampak berupaya mengejarku.
Tetapi aku menolak untuk diwawancarai mereka. Aku masih memiliki
ketidakpercayaan kepada si kuli tinta itu. Maklumlah kala itu, banyak dari
mereka yang masih cenderung ikut ‘menghukum’ kami.
Tak lama kemudian, datanglah
dua mobil menghampiri kerumunan ini. Ternyata mereka adalah rekan-rekan dari
LBH Surabaya. Kulihat pula Mas Indro diantaranya. Mereka hendak menjemput kami.
Tetapi ternyatabanyak dari kami yang telah siap dijemput oleh keluarganya
masing-masing. Jika aku tak salah ingat, hanya tiga kawanku yang pulang bersama
rekan-rekan dari LBH Surabaya, yakni; Wiwin, Rizal, dan Syafi’i.
Akhirnya kami saling
berpamitan satu dengan yang lain. Satu persatu, kawan-kawanku mulai pergi
meninggalkan rumah kepolisian yang telah mengunci kebebasan kami. Aku, yang
dulu ditangkap dan masuk penjara paling akhir, kini paling akhir pula
meninggalkan markas kepolisian ini.
Aku dan kakak perempuanku,
berjalan menyusuri trotoar jalan Sikatan. Sementara Mas Budi menguntit kami
dengan sepeda motornya. Tiba-tiba kakak perempuanku ini melambaikan tangan
hendak menghentikan taksi Zebra. Aku langsung menghardiknya. Aku benar-benar
tak mau naik taksi Zebra. Saat itu jiwaku masih sangat ketakutan. Bahkan hanya
sekedar naik taksi Zebra saja, aku takut. Aku masih trauma berat. Bukankah dulu
aku diambil oleh aparat Deninteldam V/Brawijaya dengan strategi penangkapan
yang melibatkan taksi Zebra ?
Tak berapa lama waktu, kami
pun menemukan taksi yang bukan milik perusahaan Zebra. Aku dan kakak
perempuanku segera naik, lalu taksi itu pun segera melaju menuju ke rumah Pakde
Didik, seperti yang telah dipesankan Ibu kepadaku beberapa hari lalu. Sementara
Mas Budi tetap menguntit laju taksi yang kami naiki, bersama sepeda motornya.
Jalan demi jalanan telah
kulewati, tinggalkan rumah berpenjara Polwiltabes Surabaya. Markas besar
kepolisian yang membangun kelilingan
tembok dan terali besi di salah satu ruangnya, yang waktu-waktu lalu
memenjarakan aku bersama kawan-kawanku atas segala kejahatan politik yang
‘dikambinghitamkan’ atas diriku, perlahan telah kian jauh ditinggalkan oleh
laju taksi ini. Namun aku tetap tak lupa, bahwa mimpi buruk ini belum usai,
masih bergelantung mengancam kengerian untuk kesekian kali dan lebih besar daya
cengkeramnya, ialah penjara raksasa yakni kekuasaan negara yang otoriter dan
diktator.
No comments:
Post a Comment