SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

5 August 2008

Surat-surat Kecil Dari Penjara (2)


Pada tanggal 7 September 1996, aku pertama kali menulis surat untuk Ibu, setelah selama lebih kurang 4 hari aku berada di penjara.

Sabtu, 7 September 1996, sekitar pukul 22.20.
Malam ini, sudah tiga Sabtu malam aku merasa seolah pagi menunggu siang, siang menanti petang, dan petang menjangkau gelap hingga gelap menambah subuh.
Kamar penjara ini luasnya sekitar 3 x 4 meter, penerangannya cuma lampu 40 watt. Aku, Ganjar, Agung, dan Rizal bertelanjang dada karena kepanasan, dan duduk di dipan tanpa kasur (beralas kayu/papan).
Kasur papan kami ini penuh barang-barang kami; botol air minum kami, pakaian-pakaian kami, makanan, bahkan sampah. Dan di kasur papan inilah tempat kami bicara, berdiskusi, makan bersama, sembahyang, dan tidur.

Demikianlah suratku yang sederhana tersebut. Namun kuyakin memberi berkas-berkas cerita yang kelak menjadi sejarah bagi rakyat di negeri ini.
Adapun suratku yang kutulis tanggal 11 September 1996 adalah sebagai berikut;

Buat Ibu, Sby, 11-09’96
Bu, sehat-sehat saja kan, semoga Tuhan masih memberkati kita semua.
Kalau Ibu nggak bisa bezuk, David juga nggak pa-pa. Jadi Ibu bezuknya nggak usah tiap hari, nanti Ibu capek. Kalau ada pesan atau kiriman bisa dititipkan lewat keluarganya Icha atau Pakde Didik, atau mungkin lewat teman-teman David yang mau bezuk. Kalau Ibu mau kontak dengan Hot atau Agus, telepon saja ke Agus (5945563) atau Hot (335359). Biar mereka ngasih semangat ke David. Ibu supaya banyak berhubungan/konsultasi dengan LBH (di jalan Kidal nomor 6) dan Pak Mochtar, soalnya mereka ikut berperan dalam kasus ini dan ceritakan tentang latar belakang David, tetapi nggak usah cerita dulu mengenai masalah di Denintel (soal itu keluarga kita saja dulu yang tahu bahwa mereka nggak punya nurani kemanusiaan).
Sebenarnya David pengen nulis surat buat Anis, tetapi David pikir itu nanti sajalah.
Soal pakaian, Ibu cukup kirim ganti baju dan celana pendek. Kalau celana dalam kirim banyak saja, soalnya di sini David bisa cuci sendiri. Pengiriman pakaian itu bisa 3 hari sekali.
Udah ya, Bu. Salam buat Wawan, suruh dia rajin belajar (jangan malas, walau nggak ada David) supaya nanti dia bisa pandai bicara tentang kemanusiaan, dan ajak dia berdoa supaya David bisa cepat pulang, supaya bisa nemani dia lagi kalau nonton bioskop  di Pasar Kembang.

Terima Kasih, ya Bu.
Anakmu, Polwiltabes blok A, kamar 1,

David Kris

No comments: