Pada tanggal 7 September
1996, aku pertama kali menulis surat untuk Ibu, setelah selama lebih kurang 4
hari aku berada di penjara.
Sabtu, 7 September 1996,
sekitar pukul 22.20.
Malam ini,
sudah tiga Sabtu malam aku merasa seolah pagi menunggu siang, siang menanti
petang, dan petang menjangkau gelap hingga gelap menambah subuh.
Kamar penjara
ini luasnya sekitar 3 x 4 meter, penerangannya cuma lampu 40 watt. Aku, Ganjar,
Agung, dan Rizal bertelanjang dada karena kepanasan, dan duduk di dipan tanpa
kasur (beralas kayu/papan).
Kasur papan
kami ini penuh barang-barang kami; botol air minum kami, pakaian-pakaian kami,
makanan, bahkan sampah. Dan di kasur papan inilah tempat kami bicara,
berdiskusi, makan bersama, sembahyang, dan tidur.
Demikianlah suratku yang
sederhana tersebut. Namun kuyakin memberi berkas-berkas cerita yang kelak
menjadi sejarah bagi rakyat di negeri ini.
Adapun suratku yang kutulis
tanggal 11 September 1996 adalah sebagai berikut;
Buat Ibu, Sby, 11-09’96
Bu, sehat-sehat saja kan,
semoga Tuhan masih memberkati kita semua.
Kalau Ibu
nggak bisa bezuk, David juga nggak pa-pa. Jadi Ibu bezuknya nggak usah tiap
hari, nanti Ibu capek. Kalau ada pesan atau kiriman bisa dititipkan lewat
keluarganya Icha atau Pakde Didik, atau mungkin lewat teman-teman David yang
mau bezuk. Kalau Ibu mau kontak dengan Hot atau Agus, telepon saja ke Agus
(5945563) atau Hot (335359). Biar mereka ngasih semangat ke David. Ibu supaya
banyak berhubungan/konsultasi dengan LBH (di jalan Kidal nomor 6) dan Pak Mochtar,
soalnya mereka ikut berperan dalam kasus ini dan ceritakan tentang latar
belakang David, tetapi nggak usah cerita dulu mengenai masalah di Denintel
(soal itu keluarga kita saja dulu yang tahu bahwa mereka nggak punya nurani
kemanusiaan).
Sebenarnya
David pengen nulis surat buat Anis, tetapi David pikir itu nanti sajalah.
Soal pakaian,
Ibu cukup kirim ganti baju dan celana pendek. Kalau celana dalam kirim banyak
saja, soalnya di sini David bisa cuci sendiri. Pengiriman pakaian itu bisa 3
hari sekali.
Udah ya, Bu.
Salam buat Wawan, suruh dia rajin belajar (jangan malas, walau nggak ada David)
supaya nanti dia bisa pandai bicara tentang kemanusiaan, dan ajak dia berdoa
supaya David bisa cepat pulang, supaya bisa nemani dia lagi kalau nonton
bioskop di Pasar Kembang.
Terima
Kasih, ya Bu.
Anakmu,
Polwiltabes blok A, kamar 1,
David
Kris
No comments:
Post a Comment