SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

5 August 2008

Surat-surat Kecil Dari Penjara (3)


Lalu pada tanggal 16 September 1996, aku kembali menulis surat pada Ibu, yakni;

Surat II, malam Selasa, 16 September 1996, setelah sembahyang bersama kawan-kawan.
Malam ini Rizal, kulihat tidur di teras kamar dengan alas tikar. Dia adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, dari dia kutahu bahwa dia tidak tertangkap namun menyerahkan diri ke pihak aparat militer di Malang, lalu diserahkan ke Bakorstanasda Jatim, masuk ke markas Deninteldam V/Brawijaya di Surabaya. Seperti halnya aku, Ganjar, Agung dan Zainal. Kami semua ‘alumnus’ Deninteldam V/Brawijaya Surabaya, yang telah dibina habis-habisan, hingga nyawa kami tinggal separuh.
Tapi kini kami telah mampu mengembalikan seluruh nyawa kami, hingga nyawa kami perlahan utuh kembali. Sebab di Deninteldam V/Brawijaya, tak sama seperti di Polwiltabes Surabaya yang kami tempati sekarang ini.

Kemudian pada tanggal 19 September 1996, aku menulis surat lagi. Saat itu sekitar pukul 13.30, aku meminjam kamar Ali sekaligus pula meminta kertas dari Ali.

Surabaya 19 Sept ’96

Di sini kami mengenal siapa yang bersalah, dan siapa yang dibuat salah, bahkan siapa yang dipkasa mengaku salah.
Kami mengenal Adan Topan, sebagai seorang yang berbadan paling menakutkan di blok A ini, tapi dia justru sering berkelakar dengan kami. Seringkali pula ikut makan bersama kami, seperti juga Ali, Parmin, dan Iksan. Adan Topan yang kami tahu, adalah seorang tahanan yang terlibat kasus susila, yakni dia menjual adik iparnya kepada lelaki kaya. Berbeda dengan Ali, dia kutahu masuk ke penjara dalam keadaan kakinya terluka kena tembak polisi hanya karena persoalan uang miliknya sebesar Rp. 18.000,-  yang dirampas seorang pelacur. Saat dia hendak merebut uangnya, pelacur itu pun meneriaki dia sebagai ‘maling’. Kini dia harus menebus lebih mahal, jika ingin bebas dari penjara ini. Dia harus menyediakan uang ‘jaminan’ sebesar kurang lebih Rp. 2.500.000,-  Maka pilihan Ali hanyalah berpasrah untuk menjalani hukuman dengan tuduhan ‘maling’, sebab dia hanya seorang sopir bis antar kota. Namun Ali sangatlah berbeda dengan para tahanan lain. Ali sangat baik terhadap kami. Terkadang dia turut membantu kami membersihkan kamar kami. Dia turut mengambilkan air persediaan untuk kami. Dia tak segan memijat tubuh kami, bila salah seorang dari kami merasa badannya sakit. Pijatan Ali memang manjur, rupanya dia pintar juga dalam hal memijat. Dari Ali pula aku bisa memperoleh kertas, yang kini kugunakan untuk menulis sebanyak ini. Dia memang sengaja memberikannya padaku, karena dia tahu bahwa aku sering menyendiri di kamarnya hanya untuk menulis.
Kepala di blok A ini atau penanggung jawab blok A ini dipegang oleh Nadi. Dia masuk penjara ini karena kasus pencurian sepeda motor. Sungguh bukan kerja yang mudah, dan bukan pula untuk sekedar gagah-gagahan. Tetapi memikul tanggung jawab yang besar. Nadi pun tak jarang terpaksa rela untuk dihukum demi menyelamatkan ‘anak buahnya’. Nadi pun harus pintar negosiasi bila para petugas jaga meminta upeti dari para tahanan di blok A ini. Lelaki berdarah Madura ini, sangat suka buah. Dia sering minta buah dari kami. Dia suka makan pisang dan anggur. Tapi jangan ditanya bial sedang menghajar ‘pasien baru’ yang masuk ke penjara karena kasus merugikan orang miskin. Pukulannya seiring dengan kuatnya emosinya.
Nadi pula yang memiliki tugas meminta uang bezuk dari para tahanan, untuk setiap harinya. Setiap kamar dibebani untuk membayar Rp 500,- sampai Rp. 1.000. Itu bila ada penghuni kamar tersebut yang menerima bezukan. Bila tidak, tentu pula Nadi tidak meminta uang bezuk   Pada kami, Nadi meminta Rp.2.000,- setiap harinya. Kami tak keberatan, sebab jumlah sebesar itu ditanggung oleh kami berlima. Sedangkan uang bezuk yang dikumpulkan tersebut bukan untuk Nadi, tetapi untuk membantu para tahanan lain yang tidak pernah dijenguk oleh keluarga mereka, seperti; Parmin, Nayar dan masih banyak lagi. Mereka yang tak pernah dijenguk itu, di penjara ini disebut ‘Ai’ atau Arek ilang (anak yang hilang).  Mungkin ini bantuan untuk mereka, semacam sebuah solidaritas ala para tahanan di penjara ini.

Suratku yang demikian panjang itu memang membuatku terkesan, sebab aku bisa menuliskan apa yang tertanam kuat di benakku. Tentang kawan-kawanku yang baru, yang kukenal dan kujumpai dalam kesamaan sebagai kaum yang kemerdekaannya dipenjara.    

No comments: