Lalu pada tanggal 16
September 1996, aku kembali menulis surat pada Ibu, yakni;
Surat II,
malam Selasa, 16 September 1996, setelah sembahyang bersama kawan-kawan.
Malam ini
Rizal, kulihat tidur di teras kamar dengan alas tikar. Dia adalah mahasiswa
Universitas Muhammadiyah Malang, dari dia kutahu bahwa dia tidak tertangkap
namun menyerahkan diri ke pihak aparat militer di Malang, lalu diserahkan ke
Bakorstanasda Jatim, masuk ke markas Deninteldam V/Brawijaya di Surabaya.
Seperti halnya aku, Ganjar, Agung dan Zainal. Kami semua ‘alumnus’ Deninteldam
V/Brawijaya Surabaya, yang telah dibina habis-habisan, hingga nyawa kami
tinggal separuh.
Tapi kini kami
telah mampu mengembalikan seluruh nyawa kami, hingga nyawa kami perlahan utuh
kembali. Sebab di Deninteldam V/Brawijaya, tak sama seperti di Polwiltabes
Surabaya yang kami tempati sekarang ini.
Kemudian pada tanggal 19
September 1996, aku menulis surat lagi. Saat itu sekitar pukul 13.30, aku
meminjam kamar Ali sekaligus pula meminta kertas dari Ali.
Surabaya 19 Sept ’96
Di sini kami
mengenal siapa yang bersalah, dan siapa yang dibuat salah, bahkan siapa yang
dipkasa mengaku salah.
Kami mengenal
Adan Topan, sebagai seorang yang berbadan paling menakutkan di blok A ini, tapi
dia justru sering berkelakar dengan kami. Seringkali pula ikut makan bersama
kami, seperti juga Ali, Parmin, dan Iksan. Adan Topan yang kami tahu, adalah
seorang tahanan yang terlibat kasus susila, yakni dia menjual adik iparnya
kepada lelaki kaya. Berbeda dengan Ali, dia kutahu masuk ke penjara dalam
keadaan kakinya terluka kena tembak polisi hanya karena persoalan uang miliknya
sebesar Rp. 18.000,- yang dirampas
seorang pelacur. Saat dia hendak merebut uangnya, pelacur itu pun meneriaki dia
sebagai ‘maling’. Kini dia harus menebus lebih mahal, jika ingin bebas dari
penjara ini. Dia harus menyediakan uang ‘jaminan’ sebesar kurang lebih Rp.
2.500.000,- Maka pilihan Ali hanyalah
berpasrah untuk menjalani hukuman dengan tuduhan ‘maling’, sebab dia hanya
seorang sopir bis antar kota. Namun Ali sangatlah berbeda dengan para tahanan
lain. Ali sangat baik terhadap kami. Terkadang dia turut membantu kami
membersihkan kamar kami. Dia turut mengambilkan air persediaan untuk kami. Dia
tak segan memijat tubuh kami, bila salah seorang dari kami merasa badannya
sakit. Pijatan Ali memang manjur, rupanya dia pintar juga dalam hal memijat. Dari
Ali pula aku bisa memperoleh kertas, yang kini kugunakan untuk menulis sebanyak
ini. Dia memang sengaja memberikannya padaku, karena dia tahu bahwa aku sering
menyendiri di kamarnya hanya untuk menulis.
Kepala di blok
A ini atau penanggung jawab blok A ini dipegang oleh Nadi. Dia masuk penjara
ini karena kasus pencurian sepeda motor. Sungguh bukan kerja yang mudah, dan
bukan pula untuk sekedar gagah-gagahan. Tetapi memikul tanggung jawab yang
besar. Nadi pun tak jarang terpaksa rela untuk dihukum demi menyelamatkan ‘anak
buahnya’. Nadi pun harus pintar negosiasi bila para petugas jaga meminta upeti
dari para tahanan di blok A ini. Lelaki berdarah Madura ini, sangat suka buah.
Dia sering minta buah dari kami. Dia suka makan pisang dan anggur. Tapi jangan ditanya
bial sedang menghajar ‘pasien baru’ yang masuk ke penjara karena kasus
merugikan orang miskin. Pukulannya seiring dengan kuatnya emosinya.
Nadi pula yang
memiliki tugas meminta uang bezuk dari para tahanan, untuk setiap harinya.
Setiap kamar dibebani untuk membayar Rp 500,- sampai Rp. 1.000. Itu bila ada
penghuni kamar tersebut yang menerima bezukan. Bila tidak, tentu pula Nadi
tidak meminta uang bezuk Pada kami,
Nadi meminta Rp.2.000,- setiap harinya. Kami tak keberatan, sebab jumlah
sebesar itu ditanggung oleh kami berlima. Sedangkan uang bezuk yang dikumpulkan
tersebut bukan untuk Nadi, tetapi untuk membantu para tahanan lain yang tidak
pernah dijenguk oleh keluarga mereka, seperti; Parmin, Nayar dan masih banyak
lagi. Mereka yang tak pernah dijenguk itu, di penjara ini disebut ‘Ai’ atau
Arek ilang (anak yang hilang). Mungkin
ini bantuan untuk mereka, semacam sebuah solidaritas ala para tahanan di
penjara ini.
Suratku yang demikian panjang
itu memang membuatku terkesan, sebab aku bisa menuliskan apa yang tertanam kuat
di benakku. Tentang kawan-kawanku yang baru, yang kukenal dan kujumpai dalam
kesamaan sebagai kaum yang kemerdekaannya dipenjara.
No comments:
Post a Comment