Karya tulisan ini, pun menjadi histori dengan teriring doa dan salam bagi kawan sekaligus sahabat, yang pernah menjadi satu seperjuangan; Budiman, Petrus, Iwan ‘Pilat’, Roso, Anom, Garda, Wilson, Wowok, N’daru, Putut, Dita Sari, Sholeh 'Olenk', Coen, dan masih banyak lagi. Kawan-kawan sepenjara di Polwiltabes Surabaya; Zainal, Icha, Rizal, Wiwin, Ana, Trio, Agung, Arindra, (Alm)Brewok, Ganjar. Kawan-kawan yang menjadi korban penculikan; Andi, Nezar, Reza, Mugi, Jati, dan beberapa kawan yang lain. Kawan-kawan yang hilang; Bimo ‘Omib’ , Herman, Wiji Thukul dan lainnya. Serta semua kawan yang terus subur dalam pemikiran dan perjuangan dengan semangat yang tak pernah habis untuk mematahkan belenggu penindasan atas rakyat negeri ini.
Rasa terima kasih yang teramat besar pada Tuhan. Terima kasih pula pada pihak-pihak yang dulu menjadi pendamping hukum bagi penulis; Pak Trimoeldja dan Mas Indro bersama seluruh rekan TPHKI (Tim Pembela Hukum dan Keadilan Indonesia) dan LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Surabaya, pihak penerbit naskah nyata ini, semua kawan yang memberi semangat untuk menyelesaikan tulisan ini, serta semua kerja keras rakyat yang merupakan energi tak ternilai bagi perubahan negeri tercinta ini.
Mimpi buruk telah berlalu, dan telah menorehkan bekas luka pada mimpi luhur anak-anak bangsa, yang tak akan bisa dihapuskan begitu saja dari sejarah perjuangan negeri ini. Namun tetaplah sadar bahwa mimpi buruk yang lain masih tetap bergelayut mengancam setiap harapan rakyat. Karena mimpi buruk ini pada hakekatnya adalah kengerian bersama. Maka perjuangan rakyat janganlah pernah merasa usai, tetaplah berlanjut. Bagai bunga yang tumbuh subur hingga kelaliman pun hancur, seperti bunga yang terus berkembang hingga ketidakadilan pun akan tumbang.
Penulis, Mei 1997