SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

26 April 2008

Salam dan Doa

Karya tulisan ini, pun menjadi histori dengan teriring doa dan salam bagi kawan sekaligus sahabat, yang pernah menjadi satu seperjuangan; Budiman, Petrus, Iwan ‘Pilat’, Roso, Anom, Garda, Wilson, Wowok, N’daru, Putut, Dita Sari, Sholeh 'Olenk', Coen, dan masih banyak lagi. Kawan-kawan sepenjara di Polwiltabes Surabaya; Zainal, Icha, Rizal, Wiwin, Ana, Trio, Agung, Arindra, (Alm)Brewok, Ganjar. Kawan-kawan yang menjadi korban penculikan; Andi, Nezar, Reza, Mugi, Jati, dan beberapa kawan yang lain. Kawan-kawan yang hilang; Bimo ‘Omib’ , Herman, Wiji Thukul dan lainnya. Serta semua kawan yang terus subur dalam pemikiran dan perjuangan dengan semangat yang tak pernah habis untuk mematahkan belenggu penindasan atas rakyat negeri ini.
Rasa terima kasih yang teramat besar pada Tuhan. Terima kasih pula pada pihak-pihak yang dulu menjadi pendamping hukum bagi penulis; Pak Trimoeldja dan Mas Indro bersama seluruh rekan TPHKI (Tim Pembela Hukum dan Keadilan Indonesia) dan LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Surabaya, pihak penerbit naskah nyata ini, semua kawan yang memberi semangat untuk menyelesaikan tulisan ini, serta semua kerja keras rakyat yang merupakan energi tak ternilai bagi perubahan negeri tercinta ini.

Mimpi buruk telah berlalu, dan telah menorehkan bekas luka pada mimpi luhur anak-anak bangsa, yang tak akan bisa dihapuskan begitu saja dari sejarah perjuangan negeri ini. Namun tetaplah sadar bahwa mimpi buruk yang lain masih tetap bergelayut mengancam setiap harapan rakyat. Karena mimpi buruk ini pada hakekatnya adalah kengerian bersama. Maka perjuangan rakyat janganlah pernah merasa usai, tetaplah berlanjut. Bagai bunga yang tumbuh subur hingga kelaliman pun hancur, seperti bunga yang terus berkembang hingga ketidakadilan pun akan tumbang.

Penulis, Mei 1997

25 April 2008

Dismember the Witness

Each;Every nation child borne to ever [is] obliged to fight for the straightening [of] justice and justification for nation and its country, and ever [is] entitled to for life independence [in] its birth land;ground. Even tyrannical in the reality its[his] [is] the power handle even also ever also hijack used up rights live to independence owned [by] the nation child.

Again, and for the so muchness of its times;rill, dusky history return to smear the body and soul [of] children nation in Indonesia. Struggle crushing and also rights hijack live to independence the nation children, happened again very [is] despicable [in] this country. Only for the shake of closing over a big handicap from permanent scenario [of] power of Regime Soeharto in Indonesia.

Event 27 July 1996, a biggest event riot that happened [in] Jakarta. A number of building and tens of car char lapped [by] the fire, hijack, foray, ruining, military hardness bump against the physical by force mass. Untold again sum up the missing human being, bodily injury, even defeated the hirrify. Event of people enragement which is tip of [at] the riot, representing biggest event riot that happened [in] Capital of Indonesia, during 30 year of podium of power [of] New Order stand up, after; Peristiwa Malapetaka (Calamity Event) 15 January 1974, and Insiden Lapangan Banteng (Incident of Bull Field) 1982.

Event riot which is early from scenario of bentrokan of mass PDI ( Party Democratize the Indonesia) pros Megawati with the mass of PDI of pros Soerjadi, fighting over office of DPP PDI [in] Road;Street Diponegoro, Jakarta. Finally have to make the business [of] all power functionary look for the scapegoat which will be girded [by] title of puppeteer 27 July 1996, at one blow also close over the fatal confusion for scenario of dissolution PDI, and also as permanent effort [of] power have character [to] the militeristik.

23 April 2008

Memori Sang Anak

Anak-anak bangsa tersebut berjuang bersama bagi demokratisasi di negeri ini, dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD) dengan afiliasi berbagai organisasi, yakni; Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), Pusat perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), Serikat Tani Nasional (STN), Jaringan kerja kesenian rakyat (Jaker).

Anak-anak bangsa tersebut dijadikan ‘setan gundul’, anggota organisasi tanpa bentuk (OTB), pemecah belah persatuan dan kesatuan, dituduh makar, dituding merencanakan penggulingan pemerintahan yang sah, difitnah sebagai anak cucu komunis, didakwa sebagai jelmaan PKI (Partai Komunis Indonesia, sebuah partai berideologi komunis yang berdiri pada masa Orde Lama) . Kesemua itu dilakukan tanpa menggunakan sedikitpun asas praduga tak bersalah! Ibarat sebuah mimpi, inilah mimpi buruk yang teramat buruk dan ditambah dengan kengerian bagi sejarah perjuangan anak-anak bangsa, selama kurun waktu sejak berkuasanya rejim Soeharto.

Tulisan sepanjang 200 halaman ketik folio atau kurang lebih 301.980 karakter ini (plus beberapa halaman lampiran), berkisah tentang sebuah fakta yang dilewati oleh penulis sebagai seorang anak bangsa, dari sekian banyak anak bangsa, yang ditimpa mimpi buruk tersebut. Diawali oleh kisah kemunculan mimpi buruk tersebut, ketakutannya ketika mimpi buruk itu membayanginya dengan dashyat, kemudian masa-masa sulitnya dalam perangkap mimpi buruk di Deninteldam V/Brawijaya (Detasemen intelejen daerah militer V/Brawijaya, sebuah markas intelejen militer dalam koordinasi Bakorstanasda Jatim) selama lebih kurang 15 hari lamanya, serta perjalanan hari-harinya di penjara Polwiltabes Surabaya untuk memenuhi jeratan pasal Haatzai Artikelen, hingga saat pembebasan bersyarat menjadi sebuah berkah untuk memaknai pengalaman perjuangan demokratisasi yang sangat berharga baginya.

Naskah nyata ini mulai ditulisnya sehari setelah kembali berkumpul bersama keluarganya, Akhirnya rampung di pertengahan tahun 1997, dalam kurun waktu lebih kurang 1 semester. Semua yang dituangkannya, menyingkap segala luka yang membekas dalam sejarah perjuangan anak-anak bangsa tatkala hendak mengungkapkan cita-cita luhur bagi kehidupan rakyat negeri ini untuk menjadi lebih baik di hari esok. Sejarah harus dituturkan pada setiap generasi! Semangat inilah yang membuatnya mampu untuk menuntaskan karya tulisan ini, dan menjadikannya untuk mencoba berjiwa besar sebagai manusia dengan tidak mengedepankan dendam semata.


20 April 2008

Memo in July 1996

"I happened to be in the area when it happened".

From: Pemerhati

This morning around 9.00 a.m. the PDI Headquarters at Jalan Diponegoro was attacked and taken over by Pro Surjadi supporters. THe battle started around 6.40 a.m. when pro-Surjadi supporters on 10 trucks dismounted in front of the headquarters. Stone throwing followed between the defenders which are pro -Megawati Sukarnoputri, the 1993-1998 chairman and the attackers. Sources noted that at least 2 truckload of attackers were suspected to be from the armed forces. The others does not seem to be that disciplined and forceful. However, when help for the pro-Megawati camp came, the police in full anti-riot gear stepped in. The people from the neighboring kampungs then got angry when the police just stood by blocking the street in front of the embattled headquarters. there were no effort by the police or the few army officers present to break-up the fight. They seem to be there to ensure that the attack was not disturbed.

An army officer even coordinated the attack. The people then started to throw stones and molotov bombs at the police, and it quickly grew into a riot. 2 public buses were put on fire. The riot quickly died down, and no further damage were reported. After the hq were taken over, the police stepped in and confiscated the office while taking over some documents.

Extent of causalties were not yet confirmed. In the streets surrounding the area, pro-democracy students aired their grief staging open-forums in thestreet.

From:
INDONESIA-L
Date: Sat, 27 Jul 1996

Tragedy 27 July

CRACKDOWN 27 JULY

"To the people who're killed, missing and in jails,
your courage and fighting spirit are
the lesson to the Victory!"