SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

10 May 2008

Mimpi Buruk Menyeruak (2)

Berbagai berita yang kubaca dari hari ke hari, yang terus bergulir menggiringku ke lembah ketakutan dan kengerian, sebelum aku menerima mimpi burukku kelak. Sementara aku semakin diombang-ambing keadaan yang tak menentu. Tanpa sadar aku marah. Namun aku tak tahu, aku marah pada siapa ? Pada diriku sendiri…? Atau pada pemerintah yang secara tak langsung membuat fitnah pada diriku…? Atau malah terhadap kawan-kawan PRD di Jakarta… ? Aku tak tahu pada siapa aku marah, dan pada siapa pula akan kuluapkan kemarahanku.

Detik-detik kian mengantarku pada perjalanan ketakutanku yang kian panjang menuju mimpi buruk ini. Bisa jadi saat ini namaku telah masuk sebagai daftar buronan politik di negara ini. Sementara berita dimana-mana semakin menyudutkan PRD sebagai sebuah ‘ dosa besar’ yang harus diharamkan dalam kehidupan rakyat negeri ini. Aku melihat kondisi negeri ini yang mencekam. Aku hanya berharap semoga ‘pembantaian 1965’ tak terulang. Aku takut membayangkan leherku digorok oleh orang-orang yang membusungkan dada dengan berteriak ‘Ganyang PRD’. Ketakutanku semakin hari kian terpompa membesar. Bila saat ini keberanianku ada, mungkin ia akan menertawakan diriku yang sedang dijajah habis-habisan oleh sang ketakutan.

Aku teramat kecil dengan ketakutan. Aku menjadi paham bahwa pejuang pembebasan manusia (yang paling revolusioner sekalipun) adalah seorang manusia juga. Dia memiliki sejumput rasa dan secuil nurani dalam dirinya. Ia bukan sebongkah batu karang. Dia akan tertawa bila rasa suka mengaliri hidupnya. Dia pun akan menangis bila luka menyayat hidupnya. Namun dia pun akan bersembunyi ketakutan bila bahaya besar yang terlalu sulit dihadapinya telah datang menantang dirinya. Begitu pula diriku saat ini.

Bergegas kukemasi semua berkas-berkas (buku, majalah, selebaran) atau apapun yang berkaitan dengan kegiatan politik-ku selama ini. Lalu kukumpulkan jadi satu dalam sebuah kardus besar yang kuikat rapat dengan ikatan tali rafia. Aku tak menyangka bahwa berkas-berkas milikku ini ternyata begitu banyak. Kardus bekas wadah teve ukuran 14 inch ini telah penuh sesak karenanya. Kemudian aku segera menghubungi beberapa kawan-kawanku (yang sama sekali bukan aktivis politik) agar mereka tak keberatan menerima ‘titipan’ ku ini. Tetapi rupanya mereka pun terlanjur tak punya keberanian untuk menerimanya. Aku bisa maklumi, saat itu kondisi benar-benar penuh was-was bagi rakyat yang tahu persis apa yang sebenarnya tengah terjadi di negeri ini. Pada Senin malam 29 Juli 1996, aku dan Heru datang ke rumah Icha. Kami bertiga pun sama-sama belum memastikan apa yang harus diperbuat dengan peristiwa didakwanya PRD sebagai dalang kerusuhan 27 Juli 1996. Sementara satu persatu para aktivis PRD di Surabaya telah terlebih dulu lari bersembunyi entah kemana. Kita semua tercerai berai. Pikiran semakin dihimpit kekalutan.

Sebenarnya, aku telah merencanakan untuk segera pergi ke suatu tempat di mana saja asal aku bisa selamat dari penangkapan dan aman untuk sementara waktu. Tetapi niatku tak segera kulakukan karena aku masih dihambat oleh beberapa persoalan, terutama adalah; bagaimana aku harus bicara pada Ibu perihal kondisi yang tengah terjadi dan menimpa aku ? Apakah Ibu yang sama sekali ‘buta politik’ bisa segera memahaminya ? Belum lagi problem riil bahwa aku tak punya dana cukup untuk biaya hidup selama di persembunyian. Ah….aku sungguh tak tahu apa yang harus kulakukan.

8 May 2008

Mimpi Buruk Menyeruak

Beranjak menuju pagi di hari Senin 29 Juli 1996, aku dikejutkan oleh berbagai berita di koran pagi, diantaranya;Jawa Pos dan Surya; yang memberitakan dengan tulisan besar-besar di halaman terdepan bahwa PRD adalah dalang peristiwa 27 Juli 1996. Maka sejak hari itu pula, PRD beserta seluruh para aktivisnya di berbagai wilayah di Indonesia harus mempertanggungjawabkan tindakannya atas terjadinya kerusuhan 27 Juli 1996. Aku ternganga dalam cekamnya dingin pagi itu.

Berbagai media massa terus menerus mengecam dan memojokkan keberadaan PRD, terutama media massa yang jadi ‘corong’ pemerintah. Pernyataan para pejabat Orde Baru menuding keras bahkan mendakwa bahwa PRD adalah ‘musuh rakyat’. Kegeraman penguasa Orde Baru terhadap PRD terlihat sepihak dan terang-terangan. Kekuasaan Orde Baru berupaya melibas habis PRD. Terutama dengan gencarnya memberi ‘stempel’ komunis pada para aktivis politik yang berjuang untuk demokratisasi dalam tubuh PRD. Sekali lagi, kesemuanya tanpa perlu asas praduga tak bersalah. Pernyataan itu diantaranya;

Ø Jawa Pos. Minggu 4 Agustus 1996.

coba mau berkelit bagaimana? Perilaku dan gerakan PRD itu sudah seperti komunis. Semua itu ada buktinya seperti yang tertuang dalam manifesto mereka. (Wawancara KSAD, Jendral TNI Hartono)

Ø Jawa Pos. 5 Agustus 1996.

PRD dan SMID inilah yang selalu menjadi otak unjuk rasa buruh dan masalah tanah di Jawa Timur…., untuk itu nama-nama yang terdaftar terus kita kejar. (Wawancara Pangdam V/Brawijaya, Mayjend Imam Utomo)

Ø Detektif & Romantika. No. 1/Thn XXVII/7 Agustus 1996

Budiman Sudjatmiko adalah putera Sudjatmiko, mantan anggota PKI yang masuk dalam klasifikasi B2. (Wawancara Kassospol ABRI, Letjen Syarwan Hamid )

Ø Tiras. No. 28/Thn II/8 Agustus 1996.

…aparat keamanan bersama pejabat tinggi pemerintah kembali mengeluarkan statement, yang intinya menunjukkan aktivis PRD sebagai dibalik kerusuhan itu. “Pola-pola gerakan dan struktur organisasi mereka mirip Partai Komunis Indonesia dulu. (Wawancara Menko Polkam Soesilo Soedarman).

Ø Tiras. Idem.

…kita akan menumpas yang ada di daerah, yang berbau SMID, maupun PRD dan semacamnya. Mereka mulai ditangkap dan dimintai keterangan. Harapan kami dalam waktu singkat kondisi akan baik seperti semula. Pokoknya kita akan libas mereka sampai habis, kalau mereka terus melakukan aksi. (Wawancara Kasospol ABRI, Letjen. Syarwan Hamid)

Ø Tiras. Idem.

…bahwa caranya itu mirip betul dengan cara-cara PKI. (Wawancara Soerjadi, ketua umum PDI versi kongres Medan)

Ø Jawa Pos. Kamis 8 Agustus 1996.

PRD jelas nyata-nyata merupakan kelompok yang melakukan kegiatan yang bersikap mental makar. (Wawancara Menpen Harmoko mengutip ucapan Presiden Soeharto)

Ø Gatra. No. 38/Thn III/10 Agustus 1996.

ada organisasi yang jelas-jelas bertentangan dengan idieologi Pancasila, misalnya PRD. (Wawancara Asisten Sospol Kassospol ABRI, Mayjend Suwarno Adiwijoyo)

Ø Sinar. No.46/Thn III/10 Agustus 1996.

ormas yang tidah sah, menamakan diri PRD itu, secara konsepsional merupakan organisasi mirip PKI . (Wawancara Kapuspen ABRI, Brigjen Amir Syarifudin)

Ø Sinar, idem.

bukti memperlihatkan keterlibatan PRD dalam kerusuahan 27 Juli 1996. (Wawancara Abdul Gafur, eksponen’66)

Ø Forum keadilan. No.9/Thn V/12 Agustus 1996.

pokoknya, sampai saat ini kami telah mendaptkan bukti bahwa PRD dimotori anak-anak bekas PKI. Kami telah mendapatkan bukti bahwa PRD dalam aktifitasnya selalu menggunakan cara-cara komunis. (Wawancara Kasum ABRI, Letjend Soeyono)

Apalagi ditambah dengan munculnya berbagai ‘kebulatan tekad’ dari berbagai organisasi resmi yang intinya mendukung dan membantu pemerintah untuk menumpas PRD. Di kemudian hari kuketahui dari buku Gerakan Pro Demokrasi Digebuk, bahwa ternyata begitu banyak organisasi tersebut yang memobilisasi massanya, yang tanpa sadar memenuhi hasrat kesewenangan penguasa Orde Baru, diantaranya;

Ø GEMA MKGR (Generasi Muda Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong) yang menyatakan akan mengerahkan enam juta anggotanya untuk memburu anggota-anggota PRD.

Ø Organisasi sekutu Golkar; AMPI, KNPI, Pemuda Pancasila, dan FKPPI; menuntut pembubaran PRD karena berpikir dan bertindak seperti PKI.

Ø HMI, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Ansor, Pemuda Tarbiyah, atau pula Angkatan Muda Islam Indonesia; mendesak pemerintah untuk melakukan tindakan tegas terhadap PRD.

5 May 2008

Kelahiran Si Kambing Hitam

Minggu 28 Juli 1996, sekitar pukul 13.00, aku mengajak Wawan (adikku) untuk melihat situasi kantor PDI di jalan Pandegiling. Ternyata kawasan di sekitar kantor tersebut telah diblokade oleh sekian banyak tentara dan polisi. Para aparat keamanan ini telah mengepung kantor tersebut dari segala penjuru dan setiap jalan menuju ke kantor tersebut, antara lain dari arah jalan; Pandegiling, Kupang Krajan, Kupang Panjaan, Tempel Sukorejo, Pasar Kembang, dan Diponegoro. Aku tak melihat ada kerusuhan, atau sisa-sisa terjadinya kerusuhan di kawasan tersebut, yang sempat menjadi firasatku kemarin malam. Maka aku tidak berlama-lama berada di kawasan tersebut. Aku pun segera pulang ke rumah.

Di kemudian hari kuketahui dari majalah Tiras edisi 8 Agustus 1996, bahwa pada hari itu pula para petinggi militer mengadakan rapat di Mabes ABRI untuk mencari kata tegas menentukan siapa yang bisa dijadikan kambing hitam untuk bertanggung jawab atas kerusuhan 27 Juli 1996. Segenap petinggi militer di tingkat pusat yang berkuasa kala itu, hampir secara keseluruhan hadir. Namun di buku Gerakan Pro Demokrasi Digebuk menyatakan bahwa menteri pertahanan dan keamanan Edi Sudrajat tidak menghadiri rapat yang mengagendakan penentuan ‘dalang 27 Juli 1996’. Pada info internet bersubject; Dibalik peristiwa 27 Juli; mengungkapkan bahwa hingga malam tanggal 28 Juli 1996, para militer belum juga menemukan siapa yang harus bertanggung jawab atas kerusuhan tersebut. Kemudian mereka bermain hitungan data yang intinya dibidikkan pada tuduhan bahwa gerakan yang mengatasnamakan ‘pro demokrasi’-lah yang harus bertanggung jawab atas kerusuhan tersebut.

Dari info internet itu pula kuketahui, bahwa ada beberapa kelompok pro demokrasi yang hendak dituding untuk bertanggung jawab atas peristiwa 27 Juli 1996. Mulanya adalah Yayasan Pijar. Namun setelah melihat data tentang kelompok tersebut ternyata hanya berujung pada kerja LBH. (Lembaga Bantuan Hukum). Data tersebut tak kuat untuk menjadikannya sebagai kambing hitam. Lalu SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) , ternyata pula kelompok tersebut hanya beranggotakan para mahasiswa dan jaringan kerjanya terlampau kecil, sehingga belum bisa di anggap sebagai ‘dalang kerusuhan 27 Juli’. Tibalah sebuah nama kelompok beserta seluruh data mengenai aktifitas kelompok tersebut, yang disodorkan secara ‘rahasia’ oleh CIDES. Kelompok tersebut adalah PRD (Partai Rakyat Demokratik). PRD sangatlah memenuhi semua persyaratan untuk menjadi kambing hitam sebagai dalang kerusuhan 27 Juli 1996. Data yang diberikan oleh CIDES menunjukkan bahwa:

1. rentang gerakan PRD telah bersifat nasional (ke seluruh Indonesia),

2. struktur organisasinya bisa diserupakan dengan struktur organisasi sebuah partai pada masa Orde Lama, yakni PKI (Partai Komunis Indonesia),

3. manifesto politiknya sarat dengan jargon-jargon komunisme dan telah dideklarasikan pada tanggal 22 Juli 1996,

4. (dan yang menguntungkan para petinggi militer ) PRD memiliki spektrum keterlibatan dengan para tokoh oposisi Indonesia, seperti; Gus Dur, Megawati, Sri Bintang Pamungkas, Muchtar Pakpahan, atau Pramoedya Ananta Toer.

Telah lahirlah si kambing hitam yang sangat valid untuk menyandang gelar sebagai dalang kerusuhan 27 Juli 1996. Sekaligus keberhasilan operasi militer yang menemukan titik terangnya, sebab dengan mencengkeram PRD maka para petinggi militer pun bisa pula melibas para tokoh oposisi di Indonesia. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, begitulah pepatah berkata. Maka malam itu pula kelahiran si kambing hitam itu mulai disebarluaskan ke stasiun televisi dan radio, serta berbagai media baca; Gatra, Sinar, Forum Keadilan, dan sebagainya.