Berbagai berita yang kubaca dari hari ke hari, yang terus bergulir menggiringku ke lembah ketakutan dan kengerian, sebelum aku menerima mimpi burukku kelak. Sementara aku semakin diombang-ambing keadaan yang tak menentu. Tanpa sadar aku marah. Namun aku tak tahu, aku marah pada siapa ? Pada diriku sendiri…? Atau pada pemerintah yang secara tak langsung membuat fitnah pada diriku…? Atau malah terhadap kawan-kawan PRD di Jakarta… ? Aku tak tahu pada siapa aku marah, dan pada siapa pula akan kuluapkan kemarahanku.
Detik-detik kian mengantarku pada perjalanan ketakutanku yang kian panjang menuju mimpi buruk ini. Bisa jadi saat ini namaku telah masuk sebagai daftar buronan politik di negara ini. Sementara berita dimana-mana semakin menyudutkan PRD sebagai sebuah ‘ dosa besar’ yang harus diharamkan dalam kehidupan rakyat negeri ini. Aku melihat kondisi negeri ini yang mencekam. Aku hanya berharap semoga ‘pembantaian 1965’ tak terulang. Aku takut membayangkan leherku digorok oleh orang-orang yang membusungkan dada dengan berteriak ‘Ganyang PRD’. Ketakutanku semakin hari kian terpompa membesar. Bila saat ini keberanianku ada, mungkin ia akan menertawakan diriku yang sedang dijajah habis-habisan oleh sang ketakutan.
Aku teramat kecil dengan ketakutan. Aku menjadi paham bahwa pejuang pembebasan manusia (yang paling revolusioner sekalipun) adalah seorang manusia juga. Dia memiliki sejumput rasa dan secuil nurani dalam dirinya. Ia bukan sebongkah batu karang. Dia akan tertawa bila rasa suka mengaliri hidupnya. Dia pun akan menangis bila luka menyayat hidupnya. Namun dia pun akan bersembunyi ketakutan bila bahaya besar yang terlalu sulit dihadapinya telah datang menantang dirinya. Begitu pula diriku saat ini.
Bergegas kukemasi semua berkas-berkas (buku, majalah, selebaran) atau apapun yang berkaitan dengan kegiatan politik-ku selama ini. Lalu kukumpulkan jadi satu dalam sebuah kardus besar yang kuikat rapat dengan ikatan tali rafia. Aku tak menyangka bahwa berkas-berkas milikku ini ternyata begitu banyak. Kardus bekas wadah teve ukuran 14 inch ini telah penuh sesak karenanya. Kemudian aku segera menghubungi beberapa kawan-kawanku (yang sama sekali bukan aktivis politik) agar mereka tak keberatan menerima ‘titipan’ ku ini. Tetapi rupanya mereka pun terlanjur tak punya keberanian untuk menerimanya. Aku bisa maklumi, saat itu kondisi benar-benar penuh was-was bagi rakyat yang tahu persis apa yang sebenarnya tengah terjadi di negeri ini. Pada Senin malam 29 Juli 1996, aku dan Heru datang ke rumah Icha. Kami bertiga pun sama-sama belum memastikan apa yang harus diperbuat dengan peristiwa didakwanya PRD sebagai dalang kerusuhan 27 Juli 1996. Sementara satu persatu para aktivis PRD di Surabaya telah terlebih dulu lari bersembunyi entah kemana. Kita semua tercerai berai. Pikiran semakin dihimpit kekalutan.
Sebenarnya, aku telah merencanakan untuk segera pergi ke suatu tempat di mana saja asal aku bisa selamat dari penangkapan dan aman untuk sementara waktu. Tetapi niatku tak segera kulakukan karena aku masih dihambat oleh beberapa persoalan, terutama adalah; bagaimana aku harus bicara pada Ibu perihal kondisi yang tengah terjadi dan menimpa aku ? Apakah Ibu yang sama sekali ‘buta politik’ bisa segera memahaminya ? Belum lagi problem riil bahwa aku tak punya dana cukup untuk biaya hidup selama di persembunyian. Ah….aku sungguh tak tahu apa yang harus kulakukan.