Hari demi hari, satu demi
satu, aku mengenal baik dengan para tahanan yang terkena kasus kriminal. Mereka
adalah;
1.
Kamar nomor 2 : Adan Topan, Chun/Chung, Djono, dan Rudi.
2.
Kamar nomor 3 : Parmin, Ali, Iksan, dan Sakur yang dipanggil
Peleng.
3.
Sedangkan selebihnya : Nadi, Anas, Azis, Arif, Muchklis,
Romli alias Erwin, Nayar, dan seseorang yang kerap dipanggil Black Panther.
4.
Lalu para tahanan yang di blok B, yang kukenal pula : Sabri,
Tingwar, Dalbo, Imam, Kadir, Nursiono, Darsa, Udin, Buang, Hafid, Irfan, Husni,
Mujiono, dan Sukir.
Bersama mereka, aku dan
kawan-kawanku, saling berbagi cerita. Mereka bicara tentang ‘kehebatan’ mereka
melakukan pencurian, perampokan bahkan perkosaan. Tetapi pula mereka bicara
tentang pengalaman dan perjalanan hidup. Kami pun menceritakan ‘kehebatan’ kami
berdemonstrasi bahkan menentang pemerintahan Indonesia. Tak heran bahwa kami
pun sempat mengenal cara-cara dalam melakukan seperti apa yang mereka lakukan.
Sama seperti mereka pun mengenal ‘kamus baru’ dari kami, misalnya; Penindasan,
Lawan, Demokrasi atau Mati, Hidup Rakyat, Hidup Buruh,
bahkan Hidup PRD. Bahkan di blok B, para tahanan malah diajarkan lagu; Darah
Juang, Satukanlah, atau Pasti Menang. Aku bersama
kawan-kawan, baik yang di blok A maupun blok B, pun mengenal ‘lagu wajib’ para
tahanan di Polwiltabes Surabaya ini. Lagu tersebut harus dinyanyikan dan
dihapalkan oleh setiap penghuni penjara. Lagu ini sebenarnya ‘plesetan’
dari lagu dangdut yang berjudul ‘Hidup
Di Bui’. Beginilah syair lagu tersebut;
Pertamanya aku tak mengerti
Kenapa ku ditangkap polisi
Dipukuli setengah mati
Disuruh ngakuin barang bukti
Reff : Hey, kawan, jangan
berbuat salah
Salah itu bisa dipenjara
Di penjara bagaikan raja
Makan tidur selalu dijaga
Bila sore menjelang petang
Hanya tembok terali ku
pandang
Pikiranku melayang-layang
Menunggu bezukan belum datang
Lagu tersebut sering
didendangkan oleh kami semua di penjara ini, apalagi bila malam tiba. Sembari
diiringi suara ketimpungan dari drum bekas wadah air mineral yang ditabuh
seiring dentang terali besi yang dipukul. Bagi kami, yang terpenting adalah
hati gelisah dan jiwa lelah kami bisa terhibur, meski kami sadar bahwa ini tak
akan menyelesaikan persoalan realitas yang esok kami hadapi yakni; diadili dan
di penjara lebih lama lagi.
Inilah pertalian rasa kami
semua.Tak ada lagi yang harus disembunyikan, atau dirahasiakan, sebab kami
seluruh tahanan di penjara ini senasib sebagai orang yang dimerdekakan.
Begitu pun kami mengenal para
petugas jaganya yang berpangkat kopral hingga sersan, dari yang sabar hingga
yang paling galak. Mereka antara lain; Pak Mulyono, Pak Herman, Pak Joko, Pak
Imam, atau pula Pak Ridhoi. Sikap mereka terhadap kami yang menjadi tahanan
politik ini, cenderung memang tak segalak ketimbang terhadap para tahanan yang
lain. Meski tetaplah ada beberapa petugas jaga yang berupaya ‘menyamakan’ kami
dengan para tahanan lain, apalagi dalam urusan kekerasan.
No comments:
Post a Comment