SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

7 August 2008

Mengenal balada Orang-orang Tahanan (2)


Hari demi hari, satu demi satu, aku mengenal baik dengan para tahanan yang terkena kasus kriminal. Mereka adalah;
1.      Kamar nomor 2 : Adan Topan, Chun/Chung, Djono, dan Rudi.
2.      Kamar nomor 3 : Parmin, Ali, Iksan, dan Sakur yang dipanggil Peleng.
3.      Sedangkan selebihnya : Nadi, Anas, Azis, Arif, Muchklis, Romli alias Erwin, Nayar, dan      seseorang yang kerap dipanggil Black Panther.
4.      Lalu para tahanan yang di blok B, yang kukenal pula : Sabri, Tingwar, Dalbo, Imam, Kadir, Nursiono, Darsa, Udin, Buang, Hafid, Irfan, Husni, Mujiono, dan Sukir.

Bersama mereka, aku dan kawan-kawanku, saling berbagi cerita. Mereka bicara tentang ‘kehebatan’ mereka melakukan pencurian, perampokan bahkan perkosaan. Tetapi pula mereka bicara tentang pengalaman dan perjalanan hidup. Kami pun menceritakan ‘kehebatan’ kami berdemonstrasi bahkan menentang pemerintahan Indonesia. Tak heran bahwa kami pun sempat mengenal cara-cara dalam melakukan seperti apa yang mereka lakukan. Sama seperti mereka pun mengenal ‘kamus baru’ dari kami, misalnya; Penindasan, Lawan, Demokrasi atau Mati, Hidup Rakyat, Hidup Buruh, bahkan Hidup PRD. Bahkan di blok B, para tahanan malah diajarkan lagu; Darah Juang, Satukanlah, atau Pasti Menang. Aku bersama kawan-kawan, baik yang di blok A maupun blok B, pun mengenal ‘lagu wajib’ para tahanan di Polwiltabes Surabaya ini. Lagu tersebut harus dinyanyikan dan dihapalkan oleh setiap penghuni penjara. Lagu ini sebenarnya ‘plesetan’ dari  lagu dangdut yang berjudul ‘Hidup Di Bui’. Beginilah syair lagu tersebut;

Pertamanya aku tak mengerti
Kenapa ku ditangkap polisi
Dipukuli setengah mati
Disuruh ngakuin barang bukti
Reff : Hey, kawan, jangan berbuat salah
         Salah itu bisa dipenjara
         Di penjara bagaikan raja
         Makan tidur selalu dijaga
Bila sore menjelang petang
Hanya tembok terali ku pandang
Pikiranku melayang-layang
Menunggu bezukan belum datang


Lagu tersebut sering didendangkan oleh kami semua di penjara ini, apalagi bila malam tiba. Sembari diiringi suara ketimpungan dari drum bekas wadah air mineral yang ditabuh seiring dentang terali besi yang dipukul. Bagi kami, yang terpenting adalah hati gelisah dan jiwa lelah kami bisa terhibur, meski kami sadar bahwa ini tak akan menyelesaikan persoalan realitas yang esok kami hadapi yakni; diadili dan di penjara lebih lama lagi.
Inilah pertalian rasa kami semua.Tak ada lagi yang harus disembunyikan, atau dirahasiakan, sebab kami seluruh tahanan di penjara ini senasib sebagai orang yang dimerdekakan.
Begitu pun kami mengenal para petugas jaganya yang berpangkat kopral hingga sersan, dari yang sabar hingga yang paling galak. Mereka antara lain; Pak Mulyono, Pak Herman, Pak Joko, Pak Imam, atau pula Pak Ridhoi. Sikap mereka terhadap kami yang menjadi tahanan politik ini, cenderung memang tak segalak ketimbang terhadap para tahanan yang lain. Meski tetaplah ada beberapa petugas jaga yang berupaya ‘menyamakan’ kami dengan para tahanan lain, apalagi dalam urusan kekerasan.

No comments: