SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

9 July 2008

Hari-hari Seusai Masa Interogasi (4)

Sesampai di ruang adminstrasi, satu persatu dari kami diharus menandatangani surat pernyataan di atas kertas bermeterai 2.000 rupiah. Pada intinya, surat pernyataan tersebut berisi antara lain bahwa;

ü Barang-barang yang diserahkan kepada kami telah lengkap tanpa kurang satu pun.

ü Kami tidak akan pernah menceritakan kepada siapa pun tentang apa yang kami lihat, dengar dan alami selama di Deninteldam V/Brawijaya ini.

ü Kami bersedia wajib lapor di Deninteldam V/Brawijaya ini selama waktu yang ditentukan kemudian.

Setelah aku menandatangi surat pernyataan itu, kami pun segera kembali ke ruang data sembari membawa barang kami masing-masing. Sementara aku hanya mengenakan celana jins dan kaos putih (yang kemarin barusan kucuci), karena itulah yang aku kenakan ketika dijebloskan di markas militer ini. Telah terbayang rapi di otakku, seandainya aku pulang nanti, aku akan memasuki kampungku dengan penuh ketegaran. Sesampai di rumahku, aku akan memeluk Ibu erat-erat, dan mengucapkan maafku padanya. Ah…, semua itu merupakan bayangan yang indah, yang mungkin tergapai wujudnya, atau malah menghilang tak kesampaian.

Tibalah saat satu persatu para intelejen mendatangi kami. Mereka meminta maaf pada kami, sebab mereka hanya menjalankan tugas, dan berharap agar kami tidak menaruh rasa dendam terhadap mereka. Ada pula di antara mereka yang memberikan pesan terakhirnya, di antaranya Pak Enos;

“Kalian sekarang kuliah yang benar, raih gelkar sarjana kalian, dan cari uang yang banyak untuk anak istri kalian nanti. Kalian tidak usah ikut-ikut ngurusi negara-lah. Negara ini sudah ada yang mengurusi sendiri. Dan lagi nggak ada untungnya buat kalian, malah kalian sendiri yang rugi. Bahkan orang tua kalian juga ikut susah. Saya nggak ingin ketemu kalian lagi di sini. Jangan kalian datang ke tempat ini sebagai musuh untuk yang kedua kalinya. Kalau itu yang kalian mau, kami tak segan untuk membunuh kalian dan itu tak ada masalah bagi kami. Tapi jika kalian ke sini sebagai tamu, ya silahkan, kami senang sekali dan akan kami terima dengan baik….”

Panjang lebar kata-kata tersebut diberikan untuk kami. Meski mungkin kami tak mengerti, apakah kata-kataku itu sebuah nasehat atau sebuah ancaman ? Sulit kami bedakan keduanya.

Sekitar pukul 10.30, seorang intelejen memanggil Rouf.

“Bawa barangmu sekalian…”

Rouf segera berpamitan pada Arindra dan kepadaku. Kami saling berpelukan. Perpisahan ini membuat kami kian tak mampu untuk begitu mudahnya melupakan semua yang kami alami bersama di tempat ini. Kupandangi langkah gembira Rouf meninggalkan ruangan ini. Dia telah terbebas dari perangkap ini, yang selama berhari-hari tak pernah memanusiakan dirinya. Aku masih tak bisa melupakan bagaimana para intelejen itu memperlakukan Rouf seperti ‘badut’ yang memalukan dan merendahkan harkatnya. Sampai bertemu kembali, Rouf.

Dikemudian hari barulah aku mengetahui bahwa saat itu Rouf belum dipulangkan, melainkan disuruh menunggu terlebih dulu di ruang belakang dekat ‘kamar hantu’ bersama Dayat, dan Yohanes Kukuh. Barulah hari menjelang sore, mereka bertiga dipulangkan ke rumah masing-masing.

Ruang data kini hanya tinggal aku dan Arindra. Kami menunggu selama berjam-jam, tetapi tak satu pun intelejen yang memanggil kami. Kami berdua hanya menghabiskan berbatang-batang rokok, sembari saling menebak apa yang bakal terjadi pada diri kami; dipulangkan atau dipindahkan ke Polwiltabes Surabaya.

No comments: