SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

16 June 2008

Secarik Suratku dan Kiriman Ibu (2)

Tak lama setelah kuselesaikan tulisan suratku, datanglah Pak Zainuddin memasuki ruangan. Lelaki itu pun memulai interogasi terhadapku. Di sela-sela interogasi, aku beranikan untuk menunjukkan suratku kepadanya. Dia pun membacanya, sambil tersenyum-senyum kecil. Lalu berpesan kepadaku supaya surta itu diserahkan ke Pak Enos, sebelum disampaikan kepada keluargaku.

Pak Zainnudin kemudian melanjutkan interogasinya terhadapku. Interogasi kali ini berkaitan dengan keterlibatanku dalam aksi massa bersama buruh di Simo Pomahan pada tanggal 8 Juli 1996. Keterangan yang kuberikan kepadanya, sebatas apa yang tercatat dalam kronologis kejadian kala itu. Sedangkan persoalan rapat konsolidasi atau pun perencanaan aksi, aku tak ‘membuka’ padanya.

Interogasi ini tak berjalan lama, sekitar hampir pukul 21.00 Pak Zainuddin menghentikan interogasi ini.

“Kamu beruntung malam ini saya ada acara pribadi…..,” ujar Pak Zainuddin terhadapku sembari meninggalkan ruangan.

Aku segera menyulut rokok Gudang Garam International pemberian Pak Zainuddin, sembari merebahkan tubuhku di bangku panjang. Seusai habis sebatang rokok, aku pun tertidur.

Hari minggu tanggal 25 Agustus 1996, hari ini suasana kantor militer ini sepi. Maklumlah hari ini hari libur, sehingga tak banyak para intelejen yang lalu lalang. Hanya terkadang satu dua orang berseragam doreng, mereka adalah petugas piket, yang sempat kulihat melewati ruanganku. Semoga hari libur ini berarti pula adalah hari libur interogasiku, harapku dalam hati.

Aku pun diam-diam memeriksa berkas-berkas BAP-ku yang tertumpuk rapi di meja, meski sebenarnya aku dilarang keras oleh para interogatorku untuk tidak membuka-buka berkas-berkas tersebut. Rasa nekadku ini membuat aku menjadi mengerti tentang isi berkas-berkas BAP-ku. Ada yang tertulis seusai dengan keterangan yang aku berikan, namun ada pula yang ditambah atau dilebih-lebihkan. Pikirku, jelas ini sebuah skenario untuk lebih mudah menyeret aku dalam legitimasi bersalah dan pantas dijatuhi hukuman sesuai kemauan penguasa di Indonesia.

Tiba-tiba aku menemukan secarik kertas berisi catatan tulisan tangan. Catatan itu berisi konfirmasi pemebrian dana terhadap SMID cabang Surabaya. Konfirmasi itu dilakukan oleh Trio Yohanes, Icha, dengan Ir. Sutjipto (Ketua DPD PDI Jatim pro Mega). Pada catatan itu kuketahui bahwa konfirmasi tersebut dilakukan di Polwiltabes Surabaya. Akhirnya kuketahui dengan sebenarnya bahwa Icha, dan kawan-kawan yang lainnya, bukan dipulangkan ke rumah masing-masing seperti yang selalu diucapkan oleh beberapa intelejen di markas militer. Tetapi dijebloskankan ke penjara Polwiltabes Surabaya. Saat inilah aku merasa bahwa aku kelak akan menyusul mereka di Polwiltabes Surabaya, karena BAP-ku penuh dengan ‘keterangan subversif’ yang mengerikan.

Tiba-tiba kudengar langkah sepatu menghampiri ruanganku. Aku segera menata kembali berkas-berkas tersebut seperti sedia kala. Seorang lelaki yang belum kukenal memasuki ruanganku. Di kemudian hari aku mengetahui bahwa dia adalah Serka Suryo, yang sebenarnya pula menjadi interogatorku.

“Bagaimana kamu di sini….?”

“Saya…..baik-baik saja, Pak…”

Lelaki ini murah senyum dan suka humor. Beberapa saat kami sempat bergurau sejenak, mungkin sebagai awal perkenalan kami. Hingga kemudian dia beranjak meninggalkan aku, tanpa mengunci pintu !

No comments: