Penjara bagi seorang tahanan
baru, adalah bukan rahasia lagi, bila harus berhadapan dengan apa yang disebut
‘acara perkenalan’ . Tentu sudah bukan menjadi rahasia lagi bila acara tersebut
merupakan ujian yang berat bagi seorang tahanan baru. Terutama bagi penjahat
yang kejahatannya ‘menjengkelkan’ polisi. Apalagi kejahatannya pun
‘menyakitkan’ bagi para tahanan di dalam penjara ini.
Aku dan kawan-kawan di blok A
ini, akhirnya mau tak mau harus menyaksikan acara yang membuat hati kami miris.
Bila setiap saat ada tahanan baru yang masuk ke blok A ini, artinya maka saat
itulah kami harus melihat kekerasan dan mendengar lenguhan kesakitan. Para
polisi tak segan-segan melakukan kekerasan macam apa pun bila tahanan baru
tersebut adalah seseorang yang berulang kali mengisi daftar kejahatan di
kepolisian, atau kejahatannya terlalu jahat; pembunuhan atau pencurian dengan
kekerasan. Apalagi bila tahanan baru tersebut dicurigai memiliki ‘ajimat
kekebalan tubuh’
Bila hanya diperintahkan
untuk merayap dan berguling-guling, mungkin tak terlalu sukar dan berat. Tapi
bila harus berhadapan dengan kerasnya hantaman yang bertubi-tubi maka tak pelak
dalam waktu yang tak lama tubuh akan menggeloyor ke lantai semen yang kasar.
Usai polisi melakukan acara tersebut maka kemudian diserahkan kepada Nadi
sebagai kepala blok A. Maka Nadi pun
biasanya melakukan negosiasi pada petugas jaga, agar ada ‘dispensasi’ hukuman
yang ditimpakan pada tahanan baru tersebut. Kesepakatan yang terjadi adalah
berdasarkan; berapa banyak uang yang harus dibayar oleh tahanan baru kepada
para petugas jaga; agar tahanan baru tersebut bisa terbebas dari acara
‘perkenalan’ . Jika kesepakatan tak terjadi maka berarti acara tetap berlaku
dan berlangsung.
Jika tahanan baru tersebut
dianggap ‘musuh’, baik oleh para petugas jaga dan para tahanan lain, maka dia
akan menerima 2 acara berkelanjutan.
Pertama, dia akan menerima acara dari para petugas jaga. Sedangkan kedua, dia
akan pula menerima acara dari para tahanan lainnya. Biasanya, hal ini terjadi
pada tahanan baru yang kasusnya merugikan orang miskin, atau perkosaan. Jenis
kasus ini yang teramat dibenci oleh para tahanan. Menjadi penjahat karena
miskin, maka jangan jadi penjahat bagi orang miskin; itulah prinsip yang pernah
mereka katakan pada kami. Hal ini pernah kami lihat saat seorang maling becak
masuk menjadi tahanan baru di blok A. Setelah dia dihajar habis-habisan oleh
para petugas jaga. Lalu giliran satu persatu para tahanan menghajar dia pula
hingga babak belur. Para tahanan merasa bahwa ‘becak’ adalah simbol kemiskinan,
itulah yang membuat mereka kalap. Mereka akan lebih bangga bila bisa mencuri
motor atau mobil, bahkan merampok nasabah bank. Saat acara tersebut
berlangsung, Nadi memanggil kami.
“PRD…, PRD…!!”
Kami pun segera menghampiri
acara tersebut. Kami pun melihat dengan jelas bagaimana wajah si maling becak
itu sudah melegam hancur.
“Sekarang PRD…..” ujar salah
seorang tahanan pada kami.
Rupanya mereka ingin agar
kami pun turut memberikan hukuman pada
si maling becak itu.
Kami yang tak terbiasa
melakukan kekerasan terhadap orang lain, sudah tentu sangat berat hati
melakukan permintaan mereka. Tiba-tiba Adan Topan memberikan saran, saat kami
terdiam lama.
“Begini saja…ayo merayap…!”
bentak Adan Topan kepada lelaki itu.
Si maling becak itu pun
merayap dengan sesekali jongkok seperti seekor anjing.
“Ayo tangannya di atas….,
ngomong ‘Hidup PRD’….!” Bentak tiba-tiba dari salah seorang tahanan.
Maka si maling becak itu
mematuhi perintah itu. Dia merayap sambil mengepalkan tangan ke atas dan
meneriakkan; Hidup PRD…, Hidup PRD…..
Kami cuma bisa menggelengkan
kepala.
Tetapi kondisi akan berbeda
jika tahanan baru tersebut dianggap ‘kawan’ oleh para tahanan, maka acara
tersebut akan ditiadakan tanpa satu syarat pun.
No comments:
Post a Comment