Secara sembunyi-sembunyi aku menulis surat untuk Ibu,
tentang keadaan yang kualami bersama kawan-kawanku, dan para tahanan lainnya,
dalam penjara Polwiltabes Surabaya ini. Baik carik-carik kertas dan pulpen,
kusembunyikan diantara tumpukan sampah yang terdapat di dalam bak mandi,
seperti halnya aku menyembunyikan korek api batangan. Aku menuliskan segala
yang kulewati dalam langkahi hari-hariku di dalam penjara, yang kutuliskan
sembari rebahan di kamar Ali, agar tak terlihat oleh petugas jaga. Meski terkadang
di kamarku sendiri. Namun kesemu itu haruslah tetap melihat waktu, karena ada
waktu-waktu tertentu yang digunakan oleh petugas dari kepolisian untuk
melakukan kontrol terhadap masing-masing kamar tahanan. Biasanya, bila siang
hari terjadi sekitar pukul 11.00, dan malam hari terjadi pada sekitar pukul
20.00.
Pernah pula terjadi, para
petugas jaga yang melakukan kontrol tersebut menemukan celana panjang yang
tergantung dijemur dekat kamar mandi utama. Kontan saja, petugas jaga
marah-marah seperti kebakaran jenggot.
Bila aku tak salah ingat nama si pemilik celana panjang itu adalah Muchklis.
“Buat apa celana panjang
ini…?!”
“Buat..buat..buat sholat…”
Lelaki si pemilik celana panjang itu menjawab dengan perasaan takut.
“Peraturan di sini itu tidak
boleh ada celana panjang, bahkan sarung sekalipun. Kalau mau sholat, iya
silahkan sholat. Kan bisa memakai celana pendek…?”
Si lelaki itu tampak
tertunduk kalah.
“Celana panjang ini kan bisa
untuk gantung diri. Makanya tidak boleh ada dalam penjara ini. Kalau ada yang
mati gantung diri di blok ini, kamu mau tanggung jawab…?!” lanjut marah si
petugas jaga.
Tak berapa lama kemudian,
Muchklis dihukum dengan hukuman jungkir balik berguling-guling sepanjang kurang
lebih 15 meter.
Iya…memang itulah peraturan
di penjara Polwiltabes Surabaya ini.
Jika saat aku menuliskan
sesuatu di carik kertas kecil, beberapa kawan menghampiri aku, dan berharap
agar aku kelak menuliskan pula tentang apa yang dialami bersama di penjara.
Bila selesai, aku tidak ingin
menyimpan kertas-kertas tersebut untuk alasan keamanan. Maka, pada setiap kali
keluargaku membezuk, aku segera memberikannya kepada keluargaku, terutama Ibu.
Meski tak banyak yang aku tuliskan. Paling tidak apa yang pernah ada dalam
hidupku telah tertuang dengan baik.
No comments:
Post a Comment