SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

4 August 2008

Surat-surat Kecil Dari Penjara


Secara sembunyi-sembunyi aku menulis surat untuk Ibu, tentang keadaan yang kualami bersama kawan-kawanku, dan para tahanan lainnya, dalam penjara Polwiltabes Surabaya ini. Baik carik-carik kertas dan pulpen, kusembunyikan diantara tumpukan sampah yang terdapat di dalam bak mandi, seperti halnya aku menyembunyikan korek api batangan. Aku menuliskan segala yang kulewati dalam langkahi hari-hariku di dalam penjara, yang kutuliskan sembari rebahan di kamar Ali, agar tak terlihat oleh petugas jaga. Meski terkadang di kamarku sendiri. Namun kesemu itu haruslah tetap melihat waktu, karena ada waktu-waktu tertentu yang digunakan oleh petugas dari kepolisian untuk melakukan kontrol terhadap masing-masing kamar tahanan. Biasanya, bila siang hari terjadi sekitar pukul 11.00, dan malam hari terjadi pada sekitar pukul 20.00.
Pernah pula terjadi, para petugas jaga yang melakukan kontrol tersebut menemukan celana panjang yang tergantung dijemur dekat kamar mandi utama. Kontan saja, petugas jaga marah-marah seperti  kebakaran jenggot. Bila aku tak salah ingat nama si pemilik celana panjang itu adalah Muchklis.
“Buat apa celana panjang ini…?!”
“Buat..buat..buat sholat…” Lelaki si pemilik celana panjang itu menjawab dengan perasaan takut.
“Peraturan di sini itu tidak boleh ada celana panjang, bahkan sarung sekalipun. Kalau mau sholat, iya silahkan sholat. Kan bisa memakai celana pendek…?”
Si lelaki itu tampak tertunduk kalah.
“Celana panjang ini kan bisa untuk gantung diri. Makanya tidak boleh ada dalam penjara ini. Kalau ada yang mati gantung diri di blok ini, kamu mau tanggung jawab…?!” lanjut marah si petugas jaga.
Tak berapa lama kemudian, Muchklis dihukum dengan hukuman jungkir balik berguling-guling sepanjang kurang lebih 15 meter.
Iya…memang itulah peraturan di penjara Polwiltabes Surabaya ini.
Jika saat aku menuliskan sesuatu di carik kertas kecil, beberapa kawan menghampiri aku, dan berharap agar aku kelak menuliskan pula tentang apa yang dialami bersama di penjara.
Bila selesai, aku tidak ingin menyimpan kertas-kertas tersebut untuk alasan keamanan. Maka, pada setiap kali keluargaku membezuk, aku segera memberikannya kepada keluargaku, terutama Ibu. Meski tak banyak yang aku tuliskan. Paling tidak apa yang pernah ada dalam hidupku telah tertuang dengan  baik.

No comments: