SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

4 June 2008

Masa Pemaksaan Pengakuan (1)

Sekitar pukul 05.30 pagi, aku dibangunkan oleh seseorang petugas jaga yang berpakaian doreng. Aku bangun dari tidurku, namun tetap sadar bahwa aku belum bangun dari ‘mimpi burukku’. Sinar matahari pagi yang masih hangat menyembul di antara celah-celah lobang dinding batako itu. Petugas jaga itu segera meninggalkan aku dan kembali mengunci pintu ruangan. Aku mencoba untuk teguh berdoa pada Tuhan, semoga hari ini Tuhan membimbing aku untuk mengolah jalan pikiranku agar aku selamat dari amarah para serdadu, terlebih paling tidak aku bisa segera meninggalkan markas militer. Seusai aku berdoa tanpa diganggu para serdadu, aku mengambil pulpen yang tergeletak di atas meja, lalu aku mencoretkan 2 garis vertikal berjajar masing-masing sepanjang kira-kira 1 cm di sudut dekat ‘ranjangku’. Artinya bahwa aku telah ‘menginap’ di markas militer ini selama dua hari.

Aku duduk di bangku panjang ini sembari melihat pemandangan di luar markas militer ini, dari lubang-lubang dinding batako. Di jalanan depan markas militer ini, banyak orang lalu lalang memulai aktifitasnya. Beberapa anak-anak berseragam sekolah, kulihat penuh semangat pergi ke sekolah. Mereka seusia dengan adikku, Wawan. Pastilah saat-saat ini Wawan selalu bertanya-tanya pada Ibu, kenapa aku belum pulang juga. Sementara lagu-lagu mars kemiliteran dikumandangkan keras-keras, terdengar dari pengeras suara di luar sana. Aku pun mendengar suara orang-orang yang sedang berolah raga. Aku pun beranjak dari tempat dudukku, menuju ke arah jendela kaca. Ternyata kulihat kawan-kawanku sedang berolah raga di halaman belakang .

Tak lama Pak Budiyono datang memasuki ruangan ini.

“Ayo coba kamu gerak-gerakkan badanmu biar sakitmu berkurang…”

Pak Budiyono bermaksud menyuruhku berolah raga, agar tubuhku yang kemarin babak belur bisa sedikit tersembuhkan. Namun aku tak mampu sebab seluruh tubuhku masih sakit untuk digerakkan terlalu keras. Pak Budiyono pun memakluminya.

“Baiklah…., kalau begitu kamu mandi saja…”

Aku segera menuju ke kamar mandi, seperti yang disuruhkan oleh Pak Budiyono.

Tak berapa lama aku mandi, aku kembali menuju ruanganku. Aku melihat seorang bertubuh tambun yang hitam sedang membersihkan kaca-kaca jendela ruanganku. Dia memperkenalkan diri dengan nama Pak Roto.

“Kamar ini adalah hotelmu. Setiap pagi dan sore jangan lupa dibersihkan hotelmu ini. Di sapu, meja dan jendelanya di-lap. Kalau bersih, kan enak. Jadi biar kamu betah di sini…,” ucap Pak Roto sembari menyeka meja panjang ini.

Lelaki bernama Pak Roto ini menampakkan kebaikkan padaku. Namun entah kenapa, aku tetap tak suka melihat gelagatnya. Bagiku, toh dia tetaplah bagian dari markas militer ini.

“Kamu sudah diperiksa….?” tanya Pak Roto terhadapku.

“Belum , Pak..”

“Kalau nanti diperiksa, kamu jangan ngomong berbelit-belit. Supaya pemeriksaanmu bisa cepat selesai, dan bapak-bapak yang memeriksa kamu tidak memarahimu. Kalau cepat selesai, kan kamu cepat pulang ke rumah. Teman-temanmu yang dulu di sini sudah pulang semua. Sudah bisa kuliah lagi, sudah tidur enak dan makan enak di rumah. Kamu kan juga ingin cepat pulang, makanya kamu nanti ngomong apa adanya..”

Mendengar penuturan Pak Roto barusan, perihal kawan-kawanku yang sudah pulang ke rumah, terbersit harapanku pada sebuah kegembiraan bila aku bisa segera pulang ke rumah seperti mereka. Saat itu aku tak tahu bahwa ternyata kawan-kawanku ada yang tak dipulangkan, melainkan dipindahkan ke penjara Polwiltabes Surabaya.

Selang beberapa saat kemudian, seorang petugas jaga membawakan nasi bungkus dan seliter air minum.

“Makanlah…., biar kamu cepat sembuh…,” ucap Pak Roto sembari meninggalkan aku.

Aku segera menyantap makananku. Meski berupa nasi bungkus, aku yakin makanan ini terhitung mahal sebab isi di dalamnya sangat melezatkan. Sebenarnya mulutku masih terasa sakit untuk mengunyah, karena rahangku yang masih terasa kaku akibat pukulan para sedadu kemarin petang. Tetapi aku berpikir, aku harus tetap sehat supaya bisa berpikir dengan sehat pula. Aku tak boleh menghadapi mereka dalam kondisi perutku yang kosong, sebab kuyakin saat interogasi nanti akan menyedot energiku hingga ke titik terlemahku. Itu sebabnya, kuhabiskan makanan ini tanpa sisa. Saat itu sekitar pukul 07.00, sebab bersamaan dengan apel pagi para serdadu.

No comments: